Mengenal wayang tidak selalu harus melalui buku, gambar, atau layar digital. Di SMA 17 Agustus 1945 (SMATAG) Surabaya, siswa diajak melihat, memegang, hingga mencoba memainkan wayang secara langsung dalam pembelajaran Bahasa Daerah.
Pembelajaran tersebut dikenalkan melalui materi kawruh wayang, yakni pengetahuan seputar budaya pewayangan, mulai dari tokoh, karakter, hingga cerita yang berkembang di dalamnya. Salah satu praktik pembelajaran ini berlangsung di kelas XII IPS 6 SMATAG Surabaya.
Guru Bahasa Daerah SMATAG Surabaya, Ipung Indarta, S.Sn., menjelaskan bahwa materi kawruh wayang memberi ruang bagi siswa untuk mengenal wayang secara lebih dekat. Menurutnya, pembelajaran tidak cukup berhenti pada pengenalan nama tokoh, tetapi juga perlu menghadirkan pengalaman langsung.
“Anak-anak selama ini mungkin hanya melihat wayang melalui gambar. Ada yang hanya tahu sekilas, tetapi belum pernah mengetahui seperti apa bentuk wayang sebenarnya. Bahkan, ada anak yang sama sekali belum pernah melihat wayang secara langsung,” jelas Ipung (10/8).
Dalam pembelajaran tersebut, guru membawa wayang ke dalam kelas dan memperagakan cara memainkannya. Suasana kelas menjadi lebih interaktif karena siswa dapat melihat bentuk, detail, bahan, pewarnaan, hingga teknik menggerakkan wayang secara langsung.
Antusiasme siswa terlihat ketika mereka diberi kesempatan memegang wayang. Beberapa siswa bahkan ingin mencoba memainkan wayang yang dibawa ke kelas. Pengalaman tersebut membuat pembelajaran terasa lebih hidup karena siswa dapat berinteraksi langsung dengan salah satu kesenian tradisional Indonesia.
Selain praktik di kelas, pembelajaran juga dapat dipadukan dengan media digital. Siswa diarahkan menyaksikan pertunjukan wayang melalui YouTube, lalu mengidentifikasi cerita, dalang, serta nilai yang diperoleh dari pertunjukan tersebut. Pembelajaran juga dapat diperluas melalui kegiatan luar kelas, seperti kunjungan ke Taman Budaya Provinsi Jawa Timur saat terdapat pertunjukan atau lokakarya wayang.
Bagi siswa kelas XII IPS 6, pembelajaran tersebut memberi pengalaman baru dalam mengenal budaya Indonesia. Ketua kelas XII IPS 6, Bisma Arya Hartono Rahardjo, menilai materi wayang penting bagi generasi muda di tengah perkembangan zaman.
“Menurut saya, mata pelajaran wayang ini penting agar anak muda seperti saya di era globalisasi tetap tahu dan bisa melestarikan budaya wayang. Dengan begitu, budaya wayang tidak hilang ditelan zaman modern,” ujar Bisma.
Melalui pembelajaran kawruh wayang, wayang tidak hanya hadir sebagai materi pelajaran, tetapi juga menjadi pengalaman budaya yang dekat dengan siswa. Perpaduan antara materi, praktik, media digital, dan kegiatan luar kelas membuat pembelajaran wayang lebih relevan dengan keseharian generasi muda.
Upaya ini menjadi bagian dari cara SMATAG Surabaya mengenalkan budaya lokal secara lebih kontekstual. Dengan pendekatan langsung dan interaktif, siswa tidak hanya belajar tentang wayang, tetapi juga diajak memahami nilai budaya yang perlu dijaga di tengah arus modernisasi. (Dini)