Untag Laras Nyalakan Warisan Seni Karawitan

  • 23 Februari 2026
  • 58

Karawitan sebagai seni musik tradisional Nusantara tumbuh dan berkembang di berbagai daerah di Indonesia, dengan Karawitan Jawa sebagai salah satu yang paling dikenal. Kesenian ini tidak hanya menghadirkan keindahan bunyi gamelan, tetapi juga memuat nilai rasa, keharmonisan, dan kebersamaan antarpemain yang menjadi ciri khasnya.


Dalam praktiknya, karawitan tidak sekadar menuntut kemahiran memainkan alat musik atau memahami lagu. Para pemain, yang disebut pengrawit, dituntut mampu saling merasakan dan menyatu dalam irama. Karawitan pun menjadi ruang kebersamaan yang menekankan keselarasan, kesepahaman, dan rasa antarpemain dalam setiap gending yang dibawakan.


Upaya pelestarian seni ini turut dilakukan generasi muda melalui komunitas karawitan “Untag Laras” yang dibentuk mahasiswa Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya. Komunitas ini untuk pertama kalinya menampilkan tembang-tembang karawitan dalam Wisuda ke-132 Untag Surabaya sebagai wujud pengenalan sekaligus pelestarian budaya tradisional di lingkungan kampus.


Para pengrawit Untag Laras merupakan mahasiswa yang memiliki minat tinggi terhadap karawitan dan diberdayakan secara mandiri dalam komunitas. Ketua Komunitas Karawitan Untag Laras, Daffa Dwi, mengaku bangga atas penampilan perdana tersebut.


“Tentunya ini merupakan sebuah pencapaian yang cukup memuaskan bagi kami,” katanya (15/2)


Dalam penampilan itu, Untag Laras membawakan total 30 gending yang dibagi dalam dua hari pelaksanaan acara. Sejumlah gending yang cukup familiar bagi penikmat karawitan Jawa turut dimainkan, seperti Caping Gunung, Slendang Biru, Goyang Semarang, dan Pepeling.


Pertunjukan didukung perangkat gamelan lengkap, meliputi demung, saron, peking, slenthem, kenong, kempul, bonang, kendang, kethuk, serta sinden yang masing-masing menghadirkan warna bunyi khas dalam komposisi karawitan.


Persiapan penampilan dilakukan melalui latihan intensif selama sekitar dua bulan. Sebagian anggota bahkan mempelajari karawitan dari tahap dasar, menunjukkan proses regenerasi yang terbuka dalam komunitas ini. Menariknya, salah satu sinden Untag Laras berasal dari Ambon, memperlihatkan bahwa minat terhadap karawitan melampaui batas daerah asal.


“Untuk para mahasiswa yang ingin ikut bergabung sangat-sangat kami persilahkan. Kalian tinggal datang saja ke Ruang Karawitan di Gedung R. Ing. Soekonjono Lt. 1 atau bisa pantengin terus media sosial kami @karawitanuntagsby,” tutup Daffa. (Habibi)


https://untag-sby.ac.id
https://www.untag-sby.ac.id

\