Ketua LLDIKTI Wilayah VII Jawa Timur, Prof. Dyah Sawitri, S.E., M.M., menegaskan bahwa lulusan perguruan tinggi saat ini tidak cukup hanya mengandalkan IPK, tetapi harus mampu memberi dampak nyata bagi masyarakat. Ia menyoroti adanya pergeseran paradigma pendidikan tinggi dari sekadar menghasilkan lulusan (output) menjadi menghasilkan dampak (outcome).
Menurutnya, dunia kerja kini tidak lagi menjadikan nilai akademik sebagai indikator utama dalam menilai kualitas lulusan. Perusahaan lebih menekankan pada kemampuan praktis yang tercermin dalam cara seseorang berinteraksi dan bekerja bersama orang lain di lingkungan profesional.
“Yang dilihat bukan IPK, tapi bagaimana kemampuan kita berkomunikasi. Bagaimana kemampuan kita melakukan kolaborasi? Bagaimana kemampuan kita untuk berkoordinasi? Bagaimana kita bisa mengelola tim dengan baik? Itulah yang dicari perusahaan saat ini, bukan IPK lagi,” tegasnya (15/2)
Pernyataan tersebut disampaikan pada momen Wisuda ke-132 Untag Surabaya. Pada kesempatan itu, Prof. Dyah Sawitri menekankan bahwa kekuatan utama lulusan terletak pada personality building dan kompetensi interpersonal. Kemampuan bekerja dalam tim, berpikir adaptif, serta berkolaborasi lintas sektor menjadi fondasi untuk memenangkan persaingan di era global.
Lebih jauh dijelaskan bahwa arah kebijakan pendidikan tinggi saat ini berorientasi pada mutu dan dampak berkelanjutan. Hal tersebut selaras dengan Permendiktisaintek Nomor 39 Tahun 2025 yang menekankan sistem penjaminan mutu berbasis outcome dan daya saing internasional.
“Kata kuncinya adalah mutu,” imbuhnya
Konsep kampus berdampak menuntut perguruan tinggi memperkuat talenta, riset, inovasi, serta tata kelola yang berintegritas agar menghasilkan kontribusi nyata bagi masyarakat. Para lulusan pun diajak untuk tidak berhenti pada pencapaian akademik semata.
“Kalian semua adalah pemenang di dalam setiap kesempatan, di dalam setiap peluang. Keberhasilan ditentukan oleh kemampuan memanfaatkan peluang dan memberi kontribusi langsung,” tutupnya
Pesan tersebut menegaskan bahwa di tengah target Indonesia Emas 2045, pendidikan tinggi harus melahirkan sumber daya manusia yang tidak hanya kompeten secara intelektual, tetapi juga adaptif, kolaboratif, dan berdampak langsung bagi masyarakat luas. (Dini)