Mimpi buruk kerap membuat seseorang terbangun secara tiba-tiba di tengah malam dengan jantung berdebar, napas cepat, serta kewaspadaan yang meningkat. Selama ini, banyak orang mengira kebiasaan menonton film horor sebelum tidur menjadi penyebab utama mimpi buruk. Namun, anggapan tersebut ternyata tidak sepenuhnya tepat.
Dilansir dari Kompas.com, film horor memang dapat memicu mimpi buruk, tetapi bukan faktor utama. Stres dan kecemasan justru disebut sebagai pemicu terbesar. Berbagai hal yang menimbulkan tekanan emosional, seperti membaca novel kriminal, menonton berita yang mengkhawatirkan, hingga terlibat dalam percakapan sulit sebelum tidur, dapat memengaruhi isi mimpi seseorang.
Stres dalam kehidupan sehari-hari juga berperan besar. Perubahan besar seperti pindah rumah, memulai pekerjaan baru, mengalami perpisahan, atau kehilangan orang terkasih dapat memengaruhi cara kerja otak saat tidur. Selain itu, mimpi buruk juga sering dialami oleh penderita gangguan stres pascatrauma atau PTSD. “Diperkirakan sekitar 70–90 persen penderita PTSD mengalami mimpi buruk yang berulang, terasa nyata, dan sangat mengganggu,” tulis Kompas.com.
Tekanan dalam kehidupan sehari-hari juga berperan besar. Perubahan signifikan seperti pindah rumah, memulai pekerjaan baru, mengalami perpisahan, atau kehilangan orang terkasih dapat memengaruhi cara kerja otak saat tidur. Selain itu, mimpi buruk kerap dialami oleh penderita gangguan stres pascatrauma atau PTSD.
Tak hanya faktor psikologis, konsumsi alkohol, kafein, serta obat-obatan tertentu juga dapat memicu mimpi buruk, termasuk efek penghentian zat tersebut. Beberapa jenis antidepresan, obat jantung golongan beta-blocker, serta obat untuk parkinson dan diabetes diketahui memiliki efek samping berupa mimpi buruk.
Selain itu, gangguan tidur seperti sleep apnea obstruktif yang tidak ditangani dapat menyebabkan mimpi buruk akibat berkurangnya pasokan oksigen ke otak saat tidur. Kompas.com menyebutkan, jika mimpi buruk terjadi secara terus-menerus selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan, seseorang disarankan untuk berkonsultasi dengan tenaga medis atau profesional kesehatan mental. (Eka)