Penggunaan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) terus meningkat di berbagai sektor, mulai dari pendidikan, bisnis, hingga layanan digital. Di balik pesatnya adopsi tersebut, keamanan infrastruktur cloud dan pengelolaan data menjadi tantangan baru bagi organisasi.
Melansir Kompas.com, pemanfaatan AI membuat perusahaan semakin bergantung pada berbagai layanan cloud, aplikasi bisnis, serta aliran data yang saling terhubung. Akibatnya, ekosistem digital menjadi semakin kompleks sehingga pengelolaan keamanan siber pun kian menantang.
Cloud Security Evangelist Gigamon, Steve Goudreault, mengatakan bahwa AI umumnya tidak berjalan pada satu sistem saja, melainkan memanfaatkan kombinasi public cloud, private cloud, layanan Software-as-a-Service (SaaS), hingga sistem lama (legacy). Kondisi tersebut membuat pengelolaan keamanan, kepatuhan, dan pengawasan data menjadi jauh lebih kompleks.
Menurut Steve, perusahaan tidak cukup hanya mengetahui lokasi penyimpanan data. Organisasi juga perlu memastikan seluruh data dapat dipantau, dikelola, dan dilindungi secara optimal agar terhindar dari berbagai ancaman siber.
Ia menambahkan, tantangan terbesar saat ini bukan sekadar menambah jumlah perangkat keamanan, melainkan meningkatkan visibilitas terhadap seluruh aktivitas yang terjadi di lingkungan cloud. Perusahaan perlu mengetahui ke mana data bergerak, siapa yang mengaksesnya, serta memastikan seluruh kontrol keamanan berjalan secara efektif.
Urgensi penguatan keamanan siber juga tercermin dari data Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) yang dikutip Kompas.com. Sepanjang 2024, BSSN mencatat lebih dari 609 juta serangan siber terjadi di Indonesia. Pada periode yang sama, serangan malware juga meningkat sebesar 12,67 persen.
Meski demikian, AI tidak selalu menjadi sumber risiko. Gigamon menilai teknologi ini justru dapat membantu meningkatkan keamanan siber apabila didukung oleh data yang berkualitas serta sistem pemantauan yang baik. Dengan pendekatan tersebut, organisasi dapat mendeteksi ancaman lebih cepat, menjaga kepatuhan terhadap regulasi, sekaligus meningkatkan kepercayaan pelanggan di tengah pesatnya transformasi digital. (Eka)