Di Tengah Bencana, Surya Bakti Tempuh Ujian Doktor di Untag Surabaya

  • 16 Desember 2025
  • 1047

“Di tengah bencana di Sumatera Utara, saya tetap harus berangkat ke Surabaya demi menuntaskan ujian doktoral,” kata Surya Bakti, S.E., M.M., dosen Universitas Asahan, mengenang keputusan sulit yang ia ambil di penghujung perjalanan akademiknya.

Menempuh pendidikan doktoral bukanlah perjalanan yang selalu mulus. Hal itu dirasakan langsung oleh Surya Bakti yang harus bolak-balik dari Sumatera Utara ke Surabaya, menghadapi keterbatasan biaya, jarak tempuh yang jauh, hingga situasi darurat di daerah asal. Namun, semua tantangan itu ia hadapi demi menuntaskan studi Doktor Ilmu Ekonomi di Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya.

Dalam wawancara usai ujian terbuka, Surya Bakti mengungkapkan bahwa keputusannya memilih Untag Surabaya didasarkan pada pertimbangan akademik yang matang. Jawa Timur, menurutnya, dikenal sebagai salah satu provinsi dengan kontribusi guru besar terbanyak di Indonesia.

“Jawa Timur itu salah satu penyumbang guru besar terbesar di Indonesia. Itu menjadi pertimbangan awal saya untuk melanjutkan studi S3,” ujarnya, Kamis (12/12).

Selain reputasi akademik, faktor biaya juga menjadi pertimbangan krusial. Surya Bakti menilai biaya pendidikan di Untag Surabaya relatif terjangkau dan masih memungkinkan untuk dijangkau dengan dukungan institusi tempatnya mengabdi.

“Bantuan dari kampus tempat saya mengajar cukup untuk membiayai uang kuliah. Untuk kebutuhan lain seperti transportasi, tentu harus ditambah dari dana pribadi,” jelasnya.

Untag Surabaya Dinilai Humanis dan Mendukung Mahasiswa

Surya Bakti menilai iklim akademik di Untag Surabaya sangat kondusif, khususnya bagi mahasiswa program doktor. Ia menepis anggapan bahwa jenjang doktor selalu dipenuhi hambatan birokrasi.

“Faktanya, dosen-dosen di sini tidak pernah menyulitkan saya. Ketika mahasiswa mengalami keterbatasan, justru dibantu, bukan dijadikan penghalang,” tegasnya.

Ia secara khusus menyoroti sosok Prof. Dr. Tri Ratnawati, S.E., M.S., Ak., CA., CPA., sebagai figur pimpinan akademik yang komunikatif dan responsif. Menurutnya, pengelolaan perguruan tinggi tidak hanya berorientasi pada administrasi, tetapi juga pendekatan manusiawi.

“Beliau sangat enerjik dan komunikatif. Bahkan di malam hari pun masih bisa berdiskusi melalui WhatsApp,” ungkapnya.

Ujian Doktoral di Tengah Krisis Daerah

Ujian terbuka doktoral Surya Bakti berlangsung dalam situasi yang tidak ideal. Beberapa wilayah di Sumatera Utara saat itu dilanda musibah yang memicu kelangkaan bahan bakar serta peringatan cuaca ekstrem. Kondisi tersebut menambah beban psikologis karena ia harus meninggalkan keluarga di tengah situasi darurat.

“Sebelum berangkat, bensin sangat sulit didapat. Ada juga peringatan cuaca ekstrem. Tapi ujian terbuka ini adalah pintu akhir perjalanan akademik saya,” tuturnya.

Baginya, keputusan untuk tetap berangkat merupakan pilihan hidup demi menuntaskan tanggung jawab akademik yang telah ia jalani bertahun-tahun.

“Waktu terus berjalan. Mau tidak mau, kita harus membuat pilihan,” katanya singkat.

Pendidikan sebagai Fondasi Cara Berpikir

Lebih jauh, Surya Bakti menegaskan bahwa pendidikan doktoral tidak boleh dimaknai sebatas capaian administratif atau gelar semata. Pendidikan, menurutnya, memiliki peran fundamental dalam membentuk cara berpikir seseorang dalam menyikapi persoalan kehidupan dan pembangunan masyarakat.

“Pendidikan itu membentuk cara berpikir. Cara berpikir inilah yang kemudian diterjemahkan dalam pengabdian kepada masyarakat,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa pengetahuan akademik harus hadir sebagai solusi atas persoalan sosial, ekonomi, dan kebijakan publik, bukan sekadar tersimpan di ruang kelas atau jurnal ilmiah.

“Teori yang kita dapat tidak boleh disimpan sendiri. Itu harus diterjemahkan dalam kehidupan masyarakat,” tegasnya.

Surya Bakti juga meluruskan pandangan keliru yang kerap menyamakan pendidikan tinggi dengan kekayaan material.

“Jangan berpikir orang berpendidikan pasti kaya. Pendidikan itu soal cara berpikir, bukan soal materi,” katanya.

Menurutnya, individu yang memiliki cara berpikir kritis dan terdidik cenderung lebih tangguh menghadapi dinamika kehidupan.

“Orang yang punya cara berpikir akan lebih mampu menyelesaikan masalah. Ketika sukses, keberhasilannya juga lebih berkelanjutan,” pungkasnya.

Biaya dan Jarak, Tantangan Terbesar Akademisi Daerah

Surya Bakti tidak menampik bahwa tantangan terbesar selama menempuh studi doktoral adalah biaya dan jarak. Perjalanan udara dari Sumatera ke Surabaya menjadi beban rutin yang harus ia hadapi.

“Kalau bicara jarak, itu pasti bicara biaya. Tiket pesawat bisa di atas dua juta rupiah,” ungkapnya.

Meski demikian, ia menilai tantangan tersebut justru membentuk daya juang akademisi dari daerah.

“Sering kali, orang-orang dari luar daerah justru memiliki semangat yang lebih besar,” ujarnya.

Kisah Dr. Surya Bakti menjadi potret nyata perjuangan akademisi daerah dalam menembus jenjang pendidikan tertinggi. Lebih dari sekadar meraih gelar doktor, perjalanannya menegaskan bahwa pendidikan adalah soal ketahanan, pengorbanan, dan tanggung jawab intelektual untuk berkontribusi bagi masyarakat dan bangsa. (Boby)

https://untag-sby.ac.id
https://www.untag-sby.ac.id

\