Djarot Saiful Hidayat: Dunia Butuh Manusia Bijak, Bukan Sekadar Pintar

  • 19 Februari 2026
  • 54

Dewan Pembina Yayasan Perguruan 17 Agustus 1945 (YPTA) Surabaya, Drs. Djarot Saiful Hidayat, M.S., mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara identitas lokal dan kontribusi global bagi para lulusan Untag Surabaya. Keberanian, imajinasi, dan kreativitas dinilai sebagai syarat penting agar langkah manusia tidak berhenti pada stagnasi.


Gagasan tersebut disampaikan pada Wisuda ke-132 Untag Surabaya bertema “Akar Lokal, Kontribusi Global”, yang dipandang sebagai pengingat bahwa kemajuan tanpa akar akan rapuh.


“Akar lokal bukan beban masyarakat, melainkan sumber nilai yang memberikan arah. Janganlah lupa pada akar kita masing-masing, karena di sanalah tumbuh cara kita memandang sesuatu, menyikapi perbedaan, dan mengambil keputusan,” ujarnya (15/2)


Di tengah dunia yang bergerak sangat cepat, konsep global kerap disalahartikan sebagai kebebasan tanpa batas. Kontribusi global, justru tidak diukur dari seberapa jauh seseorang melangkah, melainkan seberapa dalam dampak yang ditinggalkan bagi kehidupan bersama.


“Dunia tidak kekurangan orang pintar, tetapi dunia membutuhkan manusia yang mampu mengaitkan kecakapan dengan kebijaksanaan, mereka yang berpikir luas, namun bertindak dengan kesadaran moral yang tinggi,” tegas Drs. Djarot 


Mantan Gubernur DKI Jakarta itu menegaskan bahwa pendidikan tinggi harus dipahami sebagai proses pembentukan manusia yang utuh. Ilmu pengetahuan memberi kekuatan, sementara nilai memberi arah. Tanpa nilai, kecerdasan dapat kehilangan makna; sebaliknya, tanpa keberanian berpikir global, nilai dapat kehilangan daya hidup. Keseimbangan keduanya menjadi kunci menghadapi perubahan zaman.


Keberhasilan, menurutnya, tidak seharusnya diukur dengan standar sempit seperti jabatan, penghasilan, atau pengakuan semata. Yang bertahan justru karakter dan integritas pribadi dalam setiap pilihan hidup.


“Yang akan bertahan adalah karakter kalian, cara kalian bersikap ketika tidak diawasi dan pilihan kalian saat mengambil keputusan yang tidak populer. Jangan lupakan akar kalian, karakter kalian, serta kewajiban untuk mengabdi kepada Indonesia Raya,” pesannya.


Pentingnya relevansi dan kebermaknaan dalam setiap peran juga ditekankan. Setiap individu diajak terus bertanya bukan hanya tentang apa yang bisa dicapai, tetapi apa yang bisa diperbaiki dan ditingkatkan dalam ruang kehidupan yang dijalani.


“Di situlah kontribusi menemukan maknanya,” tegasnya


Lebih jauh disampaikan bahwa kehidupan tidak selalu menuntut seseorang menjadi yang tercepat atau paling menonjol. Nilai kehidupan terletak pada kesadaran akan akar diri, yang menjadi pegangan saat dunia mengguncang nilai, keberhasilan menggoda untuk lupa diri, dan kegagalan menguji makna perjuangan.


“Akar itulah yang melahirkan keteguhan sikap, kepekaan nurani, dan kemampuan untuk tetap manusiawi di tengah perubahan yang berjalan tiada henti,” tuturnya.


Pesan ditutup dengan ajakan agar langkah ke mana pun tetap membawa nilai kebangsaan. Kontribusi global tidak selalu lahir dari panggung besar, melainkan dari pilihan kecil yang dijalani dengan tanggung jawab.


“Ketika langkah kalian menjangkau dunia, biarkan nilai yang kalian bawa tetap pulang pada bangsa ini. Di sanalah keseimbangan itu menemukan bentuknya, berakar lokal dan memberi arti bagi dunia,” tutupnya (Boby)


https://untag-sby.ac.id
https://www.untag-sby.ac.id

\