Berawal dari kepedulian terhadap meningkatnya masalah kesehatan mental remaja, Ariska Fauzia Amalia dan Juan Charlie Leonardo Tjindra, mahasiswa semester 5 Program Studi Psikologi Untag Surabaya, berhasil menciptakan gagasan inovatif berupa gelang pintar pendeteksi stres. Ide tersebut mengantarkan keduanya meraih Juara 2 Kategori Esai Mahasiswa Tingkat Nasional dalam ajang Lomba Esai Nasional Inovasi Sains (INVASI) 2025.
Kompetisi yang diselenggarakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (BEM FMIPA) Universitas Udayana, Bali ini diketahui Ariska melalui media sosial Instagram. Meski berasal dari rumpun Sosial dan Humaniora (SOSHUM), ia bersama timnya memberanikan diri mengikuti lomba yang diadakan oleh Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), yang umumnya diikuti oleh mahasiswa dari bidang sains dan teknik.
Keputusan itu berbuah manis. Dari lebih dari 60 peserta perguruan tinggi di seluruh Indonesia, karya mereka berhasil menembus posisi tiga besar nasional, bersanding dengan tim dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta.
Esai yang mereka usung mengangkat gagasan solusi deteksi dini risiko gangguan kesehatan mental remaja melalui teknologi wearable dan aplikasi pendamping. Ide tersebut berangkat dari keprihatinan terhadap meningkatnya kasus self-harm dan bunuh diri di kalangan remaja akibat tekanan sosial dan akademik.
“Banyak remaja yang tertekan tapi tidak tahu cara menyalurkan stresnya secara adaptif. Jadi kami menawarkan solusi dengan menggabungkan sensor fisiologis dan intervensi psikologis agar stres bisa terdeteksi sejak dini,” jelas Ariska (10/11)
Dalam usulan gagasannya, mereka menciptakan konsep gelang pintar yang mampu mendeteksi tanda-tanda stres berdasarkan sensor fisiologis. Data tersebut akan terhubung ke aplikasi yang menyediakan rekomendasi intervensi, mulai dari self-coping, distract activity, hingga konseling daring.
“Nantinya, implementasi ini bisa kolaborasi antar prodi, teknik untuk pengembangan sensor, kedokteran untuk data fisiologis, dan psikologi untuk intervensinya,” katanya
Ariska menyadari bahwa pengalaman berkompetisi justru membuka banyak pelajaran baru. Ia menilai, ajang seperti ini bukan hanya soal menang atau kalah, tetapi tentang keberanian untuk mencoba hal di luar kebiasaan dan memperluas wawasan lintas disiplin.
“Sekarang banyak lomba yang sifatnya massal, tapi kalau ingin tahu sejauh apa kemampuan kalian, ikutlah lomba yang benar-benar bergengsi. Jangan takut mencoba, karena pengalaman dan ilmunya jauh lebih berharga dari sekadar hadiah,” imbuh mahasiswa semester 5 tersebut
Sebagai rekan satu tim, Juan Charlie Leonardo Tjindra bertanggung jawab dalam merancang desain prototipe gelang dan aplikasi pendamping. Ia menjelaskan bahwa aplikasi tersebut memiliki berbagai fitur utama seperti ruang edukasi, fitur coping kit, komunitas, konselingku, dan self-tracking.
“Inspirasi awalnya dari beberapa aplikasi kesehatan mental yang sudah ada, tapi kami buat versi yang lebih terintegrasi dan adaptif untuk remaja,” ungkap Juan (10/11)
Selama proses perlombaan, keduanya mendapat bimbingan dari Ricky Alejandro Martin, S.Psi., M.Psi., Psikolog, dosen Psikologi Untag Surabaya. Meskipun seluruh rangkaian lomba dilakukan secara daring, semangat mereka tetap tinggi untuk memberikan hasil terbaik.
Dalam suasana kompetisi yang ketat itu, Juan mengaku sempat tidak menyangka dapat meraih juara.
“Kita daftar mepet banget, bahkan sempat pesimis karena waktu presentasi kurang optimal,” kenang Juan sambil tertawa.
Namun, berkat kerja keras, bimbingan dosen, dan sinergi yang baik, mereka berhasil menembus peringkat dua nasional dan mengalahkan puluhan peserta dari berbagai universitas ternama di Indonesia, dengan harapan inovasi yang mereka rancang dapat terus dikembangkan bersama dukungan kampus.
“Kalau dari kampus mau mendukung, kami sangat terbuka untuk lanjut mengembangkan ide ini,” tutup Juan (Salsha)