Fransiska Tirtoadisurja Ajak Wisudawan Untag Surabaya Bermimpi Besar

  • 27 Agustus 2026
  • 17

Fransiska Tirtoadisurja, alumni Program Studi Arsitektur Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya, kembali ke almamaternya dengan membawa kisah perjalanan yang inspiratif. Dalam rangkaian Wisuda ke-133 Untag Surabaya, ia membagikan pengalaman tentang keterbatasan, keberanian mengambil peluang, hingga kiprahnya di jejaring internasional terkait Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).


Fransiska hadir sebagai pembicara tamu dalam Wisuda ke-133 Untag Surabaya pada Sabtu (22/8/2026). Di hadapan para wisudawan, ia tidak datang untuk menggurui, tetapi berbagi pengalaman tentang bagaimana lulusan Untag Surabaya dapat terus berkembang, beradaptasi, dan memberi kontribusi dalam ruang yang lebih luas.


Saat menempuh pendidikan di Untag Surabaya, Fransiska mengaku menghadapi kesulitan finansial. Ia juga merupakan penyandang disabilitas. Kondisi tersebut menjadi bagian dari perjalanan yang membentuk keteguhan dirinya sebelum memperoleh berbagai kesempatan untuk berkembang di tingkat nasional maupun internasional.


“Saya sendiri memulai semuanya dari sesuatu yang sangat sederhana. Ketika kuliah di Untag, saya mengalami kesulitan finansial. Saya juga merupakan penyandang disabilitas hingga saat ini,” ujar Fransiska (22/8).


Menurut Fransiska, keterbatasan tidak seharusnya menjadi alasan untuk membatasi mimpi. Setiap orang, katanya, memiliki peluang untuk melakukan sesuatu yang berarti selama memiliki kemauan untuk berusaha, belajar, dan memberi kontribusi.


“Kita semua bisa melakukan hal besar kalau kita mau. Kita tidak harus menjadi Superman untuk bisa memberikan sesuatu yang berarti,” tuturnya.


Dalam perjalanan akademiknya, Fransiska juga tidak melupakan peran para dosen Untag Surabaya yang memberikan dukungan dan kepercayaan. Menurutnya, keyakinan para dosen terhadap potensi mahasiswa menjadi salah satu bekal penting yang menguatkan langkahnya hingga berada pada posisi saat ini.


Salah satu pesan dosen yang masih ia ingat hingga kini adalah agar tidak cepat puas berada di ruang yang terbatas.


“Jangan jadi ikan besar di kolam yang kecil. Jadilah ikan besar di kolam yang besar,” katanya.


Pesan tersebut kembali ia sampaikan kepada para wisudawan. Fransiska menegaskan bahwa lulusan Untag Surabaya tidak perlu merasa rendah diri ketika memiliki cita-cita besar. Setelah menyelesaikan pendidikan, para lulusan justru perlu berani melihat peluang yang lebih luas dan bertanya kepada diri sendiri tentang dampak yang ingin diberikan.


“Pertanyaannya, seberapa besar dampak yang ingin kalian berikan? Karena itu, milikilah hati dan pikiran yang besar. Jangan minder,” ujarnya.


Perjalanan Fransiska hingga terlibat dalam ruang internasional juga tidak lepas dari keberaniannya menerima tanggung jawab baru. Ia menceritakan pengalamannya ketika pada 2019 mendapat tugas berbicara di Afrika dalam kapasitasnya sebagai bagian dari lembaga yang berkaitan dengan jejaring PBB.


Saat itu, Fransiska mengaku tidak memiliki latar belakang pendidikan khusus di bidang diplomasi. Namun, ia tidak menolak kesempatan tersebut. Selama dua minggu, ia mempelajari berbagai buku dan jurnal untuk memahami bidang yang akan ia hadapi sebelum menjalankan tugas tersebut.


Pengalaman itu mengajarkannya bahwa kemampuan beradaptasi menjadi salah satu bekal penting dalam dunia profesional. Ketika menerima tanggung jawab, ia mendorong para lulusan untuk tidak hanya memenuhi ekspektasi, tetapi berusaha memberikan hasil yang lebih baik.


“Kalau orang lain meminta 10, berikan 12. Jangan memberikan alasan bagi orang lain untuk meragukan kemampuan kita,” pesannya.


Selain etos kerja dan kemampuan beradaptasi, Fransiska menekankan pentingnya memahami bidang yang ditekuni sebelum menciptakan inovasi. Menurutnya, keinginan untuk menghasilkan sesuatu yang berbeda harus dibangun dari penguasaan yang kuat terhadap bidang keilmuan.


“Jangan terburu-buru ingin menjadi out of the box sebelum memahami the box. Kita bisa menciptakan sesuatu yang baru karena kita benar-benar menguasai bidang tersebut,” jelasnya.


Kehadiran Fransiska dalam Wisuda ke-133 menjadi pengingat bahwa titik awal seseorang tidak selalu menentukan akhir perjalanan. Dari keterbatasan saat menjadi mahasiswa hingga berkiprah dalam forum internasional, ia menunjukkan bahwa keberanian, kerja keras, dan kemauan untuk terus belajar dapat membuka jalan yang lebih luas.


Kepada para wisudawan, Fransiska berpesan agar berani bermimpi besar, tidak mudah menyerah, dan terus mengasah kemampuan. Baginya, keberhasilan bukan hanya tentang posisi yang dicapai, tetapi juga tentang manfaat yang dapat diberikan kepada orang lain, masyarakat, dan bangsa. (Dini)


https://untag-sby.ac.id
https://www.untag-sby.ac.id