Iftar Ramadhan YPTA Surabaya Tegaskan Harmoni dalam Keberagaman

  • 03 Maret 2026
  • VaniaS
  • 39

Keluarga besar Yayasan Perguruan 17 Agustus 1945 (YPTA) Surabaya menggelar buka bersama bertajuk Iftar Ramadhan “Dalam Silaturahmi Kita Menyatu, Dalam Keberagaman Kita Bersatu” pada 2 Maret 2026 di Sea Monster Surabaya. Pertemuan tersebut menegaskan pentingnya soliditas dan harmoni sebagai fondasi dalam menjalankan amanah pendidikan.


Hadir dalam kesempatan itu Pembina YPTA Surabaya, jajaran Pengurus YPTA Surabaya, Direktorat Sistem Informasi (DSI), Direktorat Umum dan Sumber Daya Manusia (DUSDM), Direktorat Keuangan, Unit Internal Audit, Kepala Badan Usaha Milik Yayasan (BUMY), Rektor Untag Surabaya dan jajarannya, Kepala Sekolah SMP 17 Agustus 1945 (SMPTAG) Surabaya,  Kepala Sekolah SMA 17 Agustus 1945 (SMATAG) Surabaya, serta tamu eksternal dari Komunitas Indonesia Merayakan Perbedaan (IMP).


Ketua YPTA Surabaya, J. Subekti, S.H., M.M., menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya kebersamaan tersebut. Menurutnya, Ramadhan menghadirkan pelajaran mendasar tentang pengendalian diri dan rasa syukur.


“Kalau seteguk kopi atau air dalam hari biasa itu hal yang biasa. Tapi di bulan puasa, seteguk air menjadi kenikmatan yang luar biasa. Saya berharap Ramadhan ini tidak hanya menghadirkan rasa haus dan dahaga, tetapi juga menghadirkan keharmonisan antar rekan kerja, serta hati yang semakin dekat dengan masyarakat dan sesama,” terangnya. (2/3)


Ia menegaskan, nilai yang dipetik dari ibadah puasa semestinya tercermin dalam etos kerja dan pelayanan, sehingga kebersamaan tidak berhenti pada seremoni, melainkan berlanjut dalam kolaborasi nyata.


Refleksi spiritual pada sore itu diperdalam melalui tausiyah yang disampaikan Buya As Shofa, seorang pendakwah yang aktif mengisi majelis taklim dan forum keislaman di berbagai daerah. Dalam ceramahnya, ia menekankan bahwa puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan proses menyadari kasih sayang Tuhan sekaligus melatih empati.


“Tuhan adalah Maha Kasih yang tidak pilih kasih, Maha Perhatian tanpa batas. Dalam puasa kita menemukan dan merasakan betapa Tuhan benar-benar Maha Kasih. Manusia diciptakan di bumi untuk mengabdi. Kita tidak akan benar-benar mengenal diri tanpa melaparkan perut. Dari situ kita belajar empati. Jika tidak berpuasa, hati sulit menyatu, terutama dengan saudara-saudara kita yang hidup dalam keterbatasan dan belum tentu bisa menikmati kecukupan,” ujarnya. 


Pesan tersebut sejalan dengan tema kegiatan, bahwa silaturahmi bukan sekadar pertemuan fisik, melainkan ikhtiar menyatukan hati di tengah keberagaman latar belakang.


Berbusana batik seragam, para tamu menghadirkan nuansa rapi dan kompak sepanjang acara. Saat adzan Magrib berkumandang, hidangan khas seafood mulai disajikan untuk membatalkan puasa. Momen tersebut menjadi penutup rangkaian kegiatan, meninggalkan kesan sederhana namun sarat makna tentang syukur dan kebersamaan di bulan suci.


https://untag-sby.ac.id
https://www.untag-sby.ac.id

Vania

Reporter

\