Peringatan Hari Kebaya Nasional setiap 24 Juli menjadi momentum untuk melihat kebaya bukan sekadar busana tradisional, tetapi bagian dari identitas dan budaya yang terus hidup di tengah masyarakat. Bagi Ketut Anindita Satyanandani, S.I.Kom, tenaga kependidikan Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya yang berasal dari Bali, kebaya memiliki kedekatan tersendiri karena menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Bali.
Di Bali, kebaya merupakan salah satu unsur penting dalam busana adat perempuan. Secara umum, busana adat perempuan Bali terdiri atas kebaya, kamen, selendang atau senteng, serta tata rambut yang rapi. Penggunaannya menyesuaikan dengan kegiatan dan konteksnya, mulai dari aktivitas adat, kegiatan keagamaan, hingga kegiatan sehari-hari.
Anin, sapaan akrabnya, mengatakan kedekatan perempuan Bali dengan kebaya membuat busana tersebut tidak hanya dikenakan ketika menghadiri acara resmi. Dalam berbagai kegiatan adat dan keagamaan, kebaya menjadi bagian dari busana yang dikenakan dengan tetap memperhatikan kesopanan, kerapian, dan etika.
“Sebagai perempuan yang lahir dan besar dengan latar belakang budaya Bali, kebaya bukan hanya pakaian yang dikenakan untuk acara tertentu. Kebaya sudah menjadi bagian dari kehidupan dan tradisi. Sejak kecil, saya melihat bagaimana perempuan Bali mengenakan kebaya dalam berbagai kegiatan, termasuk ketika melakukan persembahyangan,” ujarnya (24/7)
Dalam kehidupan masyarakat Bali, busana memiliki fungsi yang disesuaikan dengan kegiatan yang dijalankan. Pakaian untuk bekerja, menghadiri pesta, maupun bersembahyang di pura dapat memiliki karakter dan pakem yang berbeda. Untuk kegiatan persembahyangan, misalnya, busana cenderung lebih sederhana dengan tetap mengedepankan kesopanan dan kerapian.
Anin menilai kebiasaan tersebut menunjukkan bahwa kebaya memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar pakaian. Kebaya menjadi bagian dari cara masyarakat Bali menjaga identitas budaya sekaligus menunjukkan penghormatan terhadap kegiatan yang dijalankan.
“Ketika mengenakan kebaya untuk kegiatan adat atau persembahyangan, ada rasa bahwa kita sedang membawa dan menghormati tradisi yang diwariskan oleh orang tua dan leluhur. Karena itu, cara mengenakannya juga tidak bisa sembarangan. Ada nilai kesopanan, kerapian, dan penghormatan yang harus dijaga,” katanya.
Menurutnya, tradisi mengenakan kebaya juga terus berkembang mengikuti zaman. Model dan desain kebaya kini semakin beragam, tetapi perkembangan tersebut tidak seharusnya menghilangkan nilai-nilai yang menjadi dasar dalam penggunaannya.
“Sekarang kebaya sudah semakin berkembang dan modelnya semakin beragam. Perkembangan itu sesuatu yang baik selama tetap memperhatikan nilai dan etika dalam berbusana. Tradisi tidak harus selalu terlihat kuno. Justru dengan mengikuti perkembangan zaman, kebaya bisa semakin dekat dengan generasi muda tanpa kehilangan jati dirinya,” tutur Anin.
Pemerintah Provinsi Bali sendiri telah mengatur penggunaan busana adat Bali sebagai bagian dari upaya perlindungan dan pelestarian budaya. Dalam Peraturan Gubernur Bali Nomor 79 Tahun 2018, unsur busana adat perempuan sekurang-kurangnya terdiri atas kebaya, kamen, selendang atau senteng, dan tata rambut yang rapi. Penggunaan busana adat Bali juga ditetapkan pada waktu tertentu, termasuk setiap Kamis serta saat Purnama dan Tilem.
Anin berharap peringatan Hari Kebaya Nasional tidak berhenti pada penggunaan kebaya dalam kegiatan seremonial. Lebih dari itu, momentum tersebut diharapkan dapat menjadi pengingat bagi generasi muda untuk mengenal, memahami, dan menjaga nilai budaya yang ada di balik busana tradisional Indonesia.
“Hari Kebaya Nasional menjadi pengingat bahwa kebaya adalah bagian dari kekayaan budaya Indonesia yang harus kita banggakan. Sebagai generasi yang hidup di tengah perkembangan zaman, kita memiliki tanggung jawab untuk tetap mengenal dan melestarikan kebaya. Tidak hanya memakainya, tetapi juga memahami nilai dan cerita yang ada di baliknya,” tutupnya
Kebaya pada akhirnya bukan sekadar kain dan pakaian yang dikenakan untuk memperindah penampilan. Di dalamnya terdapat identitas, tradisi, kesopanan, serta nilai penghormatan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dari Bali hingga berbagai daerah di Indonesia, kebaya menjadi bagian dari perjalanan budaya yang terus hidup dan berkembang.
Reporter