Kemarau 2026 Lebih Ekstrem, BMKG Prediksi Dampak Luas di Indonesia

  • 17 Maret 2026
  • 86

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau 2026 di Indonesia datang lebih awal dengan kondisi lebih kering dari biasanya. Sekitar 46,5 persen wilayah diperkirakan mengalami awal kemarau lebih cepat, sementara 64,5 persen wilayah berpotensi mengalami kemarau di bawah normal.


Musim kemarau diperkirakan mulai berlangsung pada April hingga Juni 2026. Wilayah Jawa, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT) menjadi daerah yang lebih awal terdampak. Puncak kemarau diprediksi terjadi pada Agustus di wilayah Jawa hingga Bali, sebagian Kalimantan, dan Sulawesi, serta berlanjut ke Maluku dan Papua pada September.


Kondisi ini dipengaruhi oleh berakhirnya fenomena La Niña lemah pada Februari 2026 yang sebelumnya meningkatkan curah hujan. Di sisi lain, terdapat peluang 50–60 persen terjadinya El Niño lemah hingga moderat pada paruh kedua tahun ini. Pergantian angin monsun Australia juga membawa massa udara kering ke wilayah Indonesia.


Kemarau yang lebih kering berpotensi memicu krisis air bersih, menurunkan debit waduk, serta mengganggu sektor pertanian akibat risiko gagal panen. Selain itu, kualitas udara dapat memburuk jika terjadi peningkatan kebakaran hutan dan lahan selama periode kering.


BMKG menekankan bahwa prediksi ini merupakan peringatan dini yang perlu direspons dengan langkah antisipatif. Masyarakat diimbau menghemat penggunaan air, petani menyesuaikan pola tanam, serta seluruh pihak meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran lahan guna meminimalkan dampak kekeringan. (Ivan)


https://untag-sby.ac.id
https://www.untag-sby.ac.id

\