Kapan Waktu yang Tepat dan Aman Olahraga Saat Puasa?

  • 16 Maret 2026
  • 64

Bulan Ramadan sering membawa perubahan pada pola aktivitas masyarakat. Siang hari biasanya terasa lebih tenang karena banyak orang menahan diri dari aktivitas fisik yang berat. Sebaliknya, malam hari justru menjadi lebih ramai dengan berbagai kegiatan, termasuk olahraga. Hal ini kemudian memunculkan pertanyaan apakah tubuh benar-benar siap berolahraga saat berpuasa, atau justru dipaksa mengikuti tren gaya hidup tertentu?


Adaptasi Tubuh Saat Berpuasa


Dari sudut pandang fisiologi, sistem metabolisme manusia memiliki mekanisme adaptasi yang cukup baik ketika berpuasa. Saat sahur, tubuh memperoleh asupan nutrisi yang menjadi bekal energi untuk menjalani puasa sekitar dua belas jam. Menu makanan seperti ayam, telur, dan sayuran tidak hanya memberikan rasa kenyang, tetapi juga berfungsi sebagai cadangan energi.


Selain cadangan gula, asupan protein dari makanan saat sahur juga berperan penting dalam menjaga ketersediaan energi lebih lama sekaligus mendukung fungsi otot selama beraktivitas. Dengan terpenuhinya kebutuhan nutrisi saat sahur dan berbuka, tubuh pada dasarnya mampu menyesuaikan diri dengan perubahan pola makan selama bulan puasa.


Waktu Terbaik Olahraga saat Puasa


Pemilihan waktu menjadi faktor penting jika ingin tetap berolahraga selama Ramadan. Salah satu waktu yang relatif aman adalah setelah salat tarawih, sekitar 30 menit hingga satu jam setelah ibadah tersebut selesai. Pada saat itu tubuh sudah memperoleh energi baru dari makanan saat berbuka puasa sehingga kondisi fisik relatif lebih siap untuk melakukan aktivitas olahraga.


Menjelang waktu berbuka puasa juga kerap dianggap sebagai momen yang tepat untuk melakukan aktivitas olahraga ringan, yaitu sekitar 30 menit hingga satu jam sebelum berbuka puasa. Pada fase ini tubuh memang sudah berada dalam kondisi lelah karena energi mulai menipis. Namun, waktu tersebut justru dianggap ideal karena kebutuhan energi yang berkurang akan segera tergantikan saat waktu berbuka tiba. Dengan demikian, tubuh tidak berada dalam kondisi kekurangan energi terlalu lama setelah aktivitas fisik.


Perhatikan Waktu Istirahat


Di sisi lain, olahraga pada waktu yang tidak tepat dapat memberikan dampak terhadap kualitas tidur. Jika seseorang terbiasa tidur sekitar pukul sembilan malam, maka aktivitas olahraga sebaiknya sudah selesai sebelum waktu tersebut. Memaksakan olahraga hingga larut malam dapat memotong waktu tidur dan berpotensi menyebabkan kelelahan pada keesokan harinya. Dalam jangka pendek, kurangnya waktu istirahat dapat mengganggu kualitas puasa karena tidak memperoleh pemulihan yang cukup.


Jenis olahraga dengan intensitas tinggi seperti angkat beban berat sebenarnya masih memungkinkan dilakukan selama Ramadan. Namun aktivitas tersebut perlu disertai penyesuaian, misalnya dengan mengurangi durasi latihan atau menurunkan intensitas agar tidak membebani tubuh secara berlebihan.


Perhatian bagi Penderita Diabetes


Meski demikian, tidak semua orang dianjurkan mengikuti tren olahraga saat berpuasa. Penderita diabetes yang masih menggunakan obat-obatan tertentu, seperti insulin atau obat anti-diabetes lainnya, perlu berhati-hati. Kondisi ini dapat meningkatkan risiko penurunan kadar gula darah secara drastis atau hipoglikemia.


Saat berolahraga, tubuh membutuhkan lebih banyak glukosa dan protein sebagai sumber energi. Jika cadangan tersebut tidak mencukupi, kadar gula darah dapat turun secara signifikan dan menimbulkan risiko kesehatan yang serius.


Momentum Menjaga Gaya Hidup Sehat


Di tengah berbagai pertimbangan tersebut, tren ini dapat memberikan manfaat yang signifikan, terutama bagi individu yang memiliki masalah kelebihan berat badan atau obesitas. Dukungan lingkungan sosial serta meningkatnya kesadaran terhadap pentingnya gaya hidup sehat juga dapat menjadi dorongan bagi masyarakat untuk tetap aktif selama bulan puasa.


Pada akhirnya, olahraga saat Ramadan bukanlah sesuatu yang harus dihindari. Tubuh mampu beradaptasi dengan perubahan pola aktivitas selama kebutuhan nutrisi, waktu istirahat, dan intensitas latihan tetap diperhatikan. Selama tidak memaksakan diri melampaui batas kemampuan tubuh serta menjaga keseimbangan antara aktivitas fisik dan waktu istirahat, olahraga justru dapat menjadi bagian dari gaya hidup sehat yang tetap dapat dijalani selama bulan puasa. (Dini)


*) dr. Alifah Hasna, Dosen Fisiologi Fakultas Kedokteran Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya



https://untag-sby.ac.id
https://www.untag-sby.ac.id

\