Toxic Productivity Bahaya di Balik Gaya Hidup yang Terlalu Sibuk

  • 10 Oktober 2025
  • 2952

Di tengah derasnya arus kesibukan, banyak orang tanpa sadar terjebak dalam fenomena toxic productivity, dorongan untuk terus produktif tanpa henti, bahkan ketika tubuh dan pikiran sudah mencapai batasnya. Kondisi ini tak hanya menurunkan performa kerja, tetapi juga berpotensi mengganggu kesehatan mental dan keseimbangan hidup seseorang.


Melansir AntaraNews, toxic productivity terjadi ketika seseorang merasa harus selalu melakukan hal yang “bermanfaat,” hingga muncul rasa bersalah saat beristirahat. Padahal, tubuh dan pikiran juga membutuhkan jeda untuk pulih agar dapat berfungsi dengan optimal.


Fenomena ini kian marak seiring berkembangnya budaya hustle di media sosial. Banyak orang menampilkan rutinitas super sibuk dan produktif, memberi kesan bahwa kesuksesan hanya bisa diraih dengan bekerja tanpa henti. Akibatnya, timbul tekanan sosial untuk terus terlihat sibuk agar dianggap berhasil.


Generasi muda, terutama Gen Z, menjadi kelompok yang paling rentan. Dorongan untuk selalu produktif sering kali muncul dari ketakutan akan tertinggal. Melihat orang lain tampak berprestasi membuat sebagian individu merasa belum cukup berusaha, meski sebenarnya mereka sudah bekerja keras.


Cara Mengatasi Toxic Productivity


Agar tidak terjebak dalam siklus produktivitas berlebih, berikut beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan:


1. Kenali pola pikir tidak seimbang

Refleksikan motivasi di balik semangat produktivitas yang dijalani. Pastikan semangat tersebut tidak berubah menjadi tekanan yang justru merugikan kesehatan fisik maupun mental.


2. Tentukan prioritas dan atur waktu secara efektif

Gunakan metode perencanaan seperti Eisenhower Matrix untuk membedakan tugas penting dan mendesak dari hal-hal yang bisa ditunda. Dengan begitu, energi dapat difokuskan pada pekerjaan yang benar-benar berarti.


3. Sediakan waktu untuk beristirahat dan menikmati hidup

Sisipkan kegiatan ringan dalam rutinitas harian, seperti membaca buku, berjalan santai, menonton film, atau berbincang dengan teman. Aktivitas sederhana ini membantu pikiran dan tubuh kembali segar.


4. Kurangi paparan media sosial

Batasi waktu berselancar di dunia maya untuk menghindari tekanan dari perbandingan sosial. Ingat, tidak semua kesuksesan yang ditampilkan adalah cerminan nyata dari kehidupan seseorang.


Menjadi produktif bukan berarti harus bekerja tanpa henti. Dengan mengenali batas diri, menghargai waktu istirahat, dan menjaga keseimbangan hidup, setiap orang dapat tetap berkarya tanpa kehilangan jati diri. (Dini)


https://untag-sby.ac.id
https://www.untag-sby.ac.id

\