Kemampuan Baru AI Merancang Genom Virus Picu Kekhawatiran Global

  • 25 Februari 2026
  • 47

Perkembangan teknologi Artificial Intelligence (AI) kini merambah semakin jauh ke bidang biologi molekuler. Sejumlah peneliti melaporkan bahwa sistem AI modern telah mampu merancang genom virus yang benar-benar baru dari nol di laboratorium.


Kemajuan ini dipandang sebagai lompatan besar dalam sains, namun sekaligus memunculkan kekhawatiran tentang potensi penyalahgunaan di masa depan.


Mengutip Tempo.co, sebuah studi yang dipublikasikan dalam jurnal Science menunjukkan bahwa AI dapat dilatih layaknya model bahasa, bukan untuk kata-kata, melainkan untuk rangkaian genom. Model tersebut mempelajari ribuan hingga puluhan ribu sekuens DNA dari berbagai keluarga virus alami. Setelah mengenali pola genetiknya, sistem AI mampu menyusun kombinasi genom baru yang secara ilmiah tampak logis.


Kemampuan ini dinilai revolusioner karena membuka peluang besar dalam pengembangan terapi berbasis virus, termasuk pengobatan infeksi bakteri yang resisten terhadap antibiotik. Namun di sisi lain, teknologi yang sama juga memunculkan kekhawatiran serius. Para ahli menilai bahwa dengan kemampuan AI menciptakan desain genetik baru, semakin sulit memprediksi perilaku virus atau protein hasil rancangan tersebut ketika diuji di dunia nyata.


Kekhawatiran itu semakin menguat setelah muncul penelitian lain yang dipimpin Microsoft. Studi tersebut menunjukkan bahwa alat AI tidak hanya mampu merancang genom virus, tetapi juga berpotensi mendesain ulang racun berbahaya agar lolos dari sistem penyaringan keamanan standar dalam industri sintesis DNA.


Celah ini muncul karena sebagian besar mekanisme penyaringan masih bergantung pada pencocokan sekuens DNA dengan basis data patogen atau racun yang telah dikenal. Jika sekuens tersebut ditulis ulang oleh AI dengan pola berbeda, ada kemungkinan tidak terdeteksi.


Meski demikian, para peneliti menegaskan bahwa eksperimen yang dilakukan saat ini masih terbatas pada bakteriofag, yaitu virus yang hanya menginfeksi bakteri dan tidak menyerang manusia. Bakteriofag dipilih karena relatif lebih aman dan sederhana untuk penelitian tahap awal.


Dalam laporan prapublikasi lain, ilmuwan menggunakan genome-language models untuk merancang ratusan kandidat genom fag dan berhasil menumbuhkan 16 virus. Terapi fag sendiri dianggap menjanjikan sebagai alternatif untuk mengatasi infeksi yang kebal terhadap antibiotik.


Dengan bantuan AI, dokter di masa depan diharapkan dapat merancang “koktail fag” yang disesuaikan dengan kebutuhan pasien tanpa merusak sel manusia atau mikrobioma yang bermanfaat.


Penelitian ini dikategorikan sebagai dual-use research, yakni riset yang memiliki potensi manfaat besar sekaligus risiko jika disalahgunakan. Karena itu, para peneliti menekankan pentingnya pembatasan data pelatihan AI serta peningkatan standar penyaringan DNA di tingkat industri sebagai langkah pengamanan awal.


Sejumlah negara mulai merespons isu ini. Inggris, misalnya, membentuk lembaga AI Safety Institute untuk menguji model AI berkemampuan tinggi dan mengevaluasi potensi risikonya. Berbagai inisiatif internasional juga mendorong penerapan protokol keamanan yang lebih seragam dalam riset genetika.


Para pakar menilai bahwa meskipun saat ini masih terdapat jarak besar antara desain genom digital dan rekayasa virus menular bagi manusia, kemajuan dalam otomatisasi, teknologi sintesis DNA, serta AI berpotensi terus memperkecil kesenjangan tersebut. Karena itu, pengembangan teknologi ini dinilai harus selalu disertai pengawasan ketat dan tanggung jawab kolektif dari komunitas ilmiah global. (Boby)


https://untag-sby.ac.id
https://www.untag-sby.ac.id

\