Jam menunjukkan pukul 02.00, lampu kamar padam, tetapi pikiran justru menyala. Skripsi, tugas, dan masa depan datang bersamaan di kepala. Kamu tidak sendiri; mayoritas mahasiswa pernah mengalaminya.
Menurut studi Sleep Foundation (2022), sebanyak 73% mahasiswa mengaku sering overthinking sebelum tidur, dan 58% butuh lebih dari 30 menit untuk bisa terlelap. Fenomena ini disebut night-time rumination, yaitu kecenderungan otak memutar ulang kejadian sehari menjelang tidur.

Siang hari, pikiran masih bisa teralihkan oleh kuliah, tugas, atau media sosial. Namun saat malam tiba, distraksi mereda dan sistem otak bernama default mode network (DMN) mulai aktif. DMN membantu refleksi diri, tetapi juga bisa memicu spiral overthinking yang berujung sulit tidur dan kelelahan mental.

Riset menunjukkan, 73% mahasiswa dengan gangguan tidur juga mengalami stres dan kecemasan kronis. Solusinya bukan sekadar “jangan mikir”, melainkan memutus rantai dengan ritual relaksasi sebelum tidur. Salah satu kuncinya adalah menjaga sleep hygiene atau kebersihan tidur secara konsisten.

Empat langkah sederhana bisa membantu: menulis kekhawatiran (brain dump), melatih napas 4-7-8, mematikan gawai satu jam sebelum tidur, dan menyiapkan daftar kegiatan esok hari. Overthinking bukan tanda lemah; itu cara otak memahami dunia. Namun seperti kolam keruh yang bening saat tenang, kadang yang kita butuhkan hanyalah jeda untuk diam. (Ivan)
