Kisah Endang Poerbowati Membangun Kembali Sastra Jepang Untag Surabaya

  • 06 Agustus 2025
  • 328

Ketika Dra. Endang Poerbowati, M.Pd. (Dr. Cand.) menerima mandat sebagai Ketua Program Studi (Kaprodi) Sastra Jepang Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya pada Oktober 2017, kondisi prodi berada di ujung tanduk. Jumlah mahasiswa tersisa hanya tujuh orang, dan ancaman penutupan sudah di depan mata. Namun bagi Endang, situasi tersebut bukan akhir, melainkan awal perjuangan panjang demi menghidupkan kembali gairah studi bahasa dan budaya Jepang di Kampus Merah Putih Untag Surabaaya. 


Lahir di Surabaya pada 22 Juni 1966, Endang tumbuh dalam lingkungan sederhana yang membentuk karakternya. Kini, di usianya yang ke-59 tahun, ia mengenang perjalanan hidupnya sebagai berkah penuh kenikmatan Nilai-nilai seperti kejujuran, kedisiplinan, dan semangat belajar telah menjadi bagian dari dirinya sejak kecil. Ia menempuh pendidikan dasar di SDN Bratang Surabaya, lulus sekitar tahun 1978, dan melanjutkan ke SMP Negeri 3 Surabaya hingga lulus pada 1981. Semasa remaja, ia dikenal sebagai sosok yang ceria, rajin, dan bersemangat.


Kebanggaan besar datang ketika ia diterima di SMAN 16 Surabaya, yang saat itu masih dikenal sebagai SMPP (Sekolah Menengah Persiapan Pembangunan), sekolah unggulan di era 1980-an yang hanya menerima siswa berprestasi dari seluruh penjuru kota. Di kelas tiga, ia bahkan memperoleh beasiswa. Endang lulus pada tahun 1986 dengan kesiapan akademik dan semangat untuk melangkah lebih jauh.


Usai tamat sekolah, kecintaannya terhadap bahasa dan budaya Jepang mulai tumbuh saat ia menempuh pendidikan di IKIP Negeri Surabaya, yang Universitas Negeri Surabaya (UNESA), jurusan Pendidikan Bahasa Jepang. Di kampus inilah benih panggilan hidupnya sebagai pendidik sekaligus pegiat budaya Jepang mulai tertanam kuat. Ia menyelesaikan studinya pada 1988 dan langsung memasuki dunia kerja profesional.


Awal kariernya dimulai di PT Yamamori Indonesia, sebuah perusahaan Jepang di Kabupaten Sidoarjo. Tugasnya cukup beragam, sebagai pengajar bahasa Jepang bagi staf yang akan dikirim ke Jepang, mengajar bahasa Indonesia untuk ekspatriat Jepang, serta menjadi penerjemah bagi pimpinan dan tenaga ahli dari Jepang. Pengalaman ini memperkaya wawasannya dan memberinya kesempatan untuk menyerap langsung etos kerja khas Jepang.


Namun dunia korporat bukanlah pelabuhan akhir. Pada 1 Juli 1991, ia mendirikan SHINJU (Surabaya Nihongo Gakko), sebuah lembaga pendidikan bahasa Jepang yang kini dikenal luas di Surabaya. SHINJU bukan hanya tempat belajar bahasa, tetapi juga tempat membentuk karakter generasi muda agar siap menghadapi tantangan global. Kurikulumnya dirancang untuk membekali siswa dengan kemampuan membaca, menulis, berbicara bahasa Jepang, serta mempersiapkan mereka mengikuti ujian sertifikasi internasional seperti Nihongo Nouryouku Shiken (JLPT) dari The Japan Foundation.


Tahun 1997, Endang mulai mengajar sebagai dosen luar biasa (LB) di Prodi Sastra Jepang Untag Surabaya. Meski belum berstatus tetap, ia konsisten mengampu mata kuliah berbasis percakapan praktis. Di saat bersamaan, ia juga diminta oleh yayasan untuk menjadi guru tetap di SMIP (Sekolah Menengah Ilmu Pariwisata) Untag. Kesibukannya tak menghalangi semangat belajar. Ia mendaftar program beasiswa Monbukagakusho (MEXT) dan pada tahun 1999 diterima untuk melanjutkan studi ke Jepang.


Selama di Jepang, ia memperluas jaringan dan memperdalam pemahamannya mengenai sistem pendidikan dan ketenagakerjaan Jepang. Setelah kembali ke Indonesia pada 2001, ia diangkat menjadi dosen tetap di Prodi Sastra Jepang Untag Surabaya. Di sinilah kiprahnya sebagai akademisi sekaligus penghubung budaya Indonesia–Jepang semakin menguat.


Tahun 2017 menjadi momentum penting. Saat Prodi Sastra Jepang menghadapi krisis eksistensi, Endang menerima amanah sebagai kaprodi. Tanpa dukungan staf tetap dan dengan kondisi yang hampir lumpuh, ia mulai membangun ulang dari nol. Ia menyusun ulang struktur organisasi, merevisi kurikulum, dan menjalin kemitraan strategis dengan perusahaan serta institusi pendidikan di Jepang. Salah satu langkah krusial yang ia ambil adalah membuka jalur magang industri sejak semester lima, dilengkapi pelatihan bahasa dan kesiapan kerja.


Strategi ini terbukti efektif. Dalam beberapa tahun, jumlah mahasiswa meningkat signifikan. Pada tahun 2018 tercatat 48 mahasiswa baru, dan pada 2020 jumlah pendaftar bahkan melampaui target, mencapai 62 orang. Kepercayaan publik kembali tumbuh, dan alumni mulai terserap di berbagai perusahaan Jepang. Mahasiswa Sastra Jepang Untag Surabaya kini rutin mengikuti program internship ke Jepang berkat jaringan dan sistem yang telah dirintisnya sejak awal kepemimpinan.


Di balik keberhasilan ini, Endang memastikan pembinaan tidak hanya berfokus pada kemampuan bahasa, tetapi juga pada pembentukan mentalitas dan karakter kerja yang sejalan dengan nilai-nilai budaya Jepang. Banyak lulusan yang akhirnya berhasil bekerja di Jepang, membuktikan keberhasilan pendekatan holistik yang ia terapkan.


Endang tinggal di kawasan Juanda, Sidoarjo. Namun saat hari kerja, ia menetap di apartemen Gunawangsa Manyar agar dekat dengan pusat aktivitas pendampingan dan pelatihan mahasiswa. Meski mengemban banyak peran sebagai akademisi, pengusaha, dan pendiri lembaga pendidikan, ia tetap memprioritaskan tugas utamanya sebagai pendidik. Di ruang kelas, ia bukan sekadar pengajar, tetapi juga pembentuk karakter, pemicu daya pikir kritis, dan penanam semangat hidup bagi mahasiswa-mahasiswanya.


Komitmennya untuk terus bertumbuh tak pernah pudar. Tahun 2025 ini, dirinya sedang menempuh studi program doktor di UNESA, memperkuat kiprahnya dalam dunia pendidikan, khususnya dalam bidang bahasa dan budaya Jepang.


Perjalanan panjang Endang Poerbowati menunjukkan bahwa membangun institusi tidak hanya membutuhkan dana atau fasilitas, tetapi terutama visi, jejaring, dan keberanian untuk bertahan di tengah keterbatasan. Ia membuktikan bahwa satu orang dengan visi, jejaring, dan keberanian mampu membalikkan keadaan. Di tangan Endang, bahasa bukan sekadar alat komunikasi, tetapi jembatan yang membawa harapan, perubahan, dan masa depan yang lebih luas bagi generasi muda Indonesia. (Boby)


https://untag-sby.ac.id
https://www.untag-sby.ac.id

\