Kuliah Bukan Hanya Soal Nilai Mahasiswa Diajak Belajar Mengelola Emosi

  • 09 Juli 2026
  • 97

Kemampuan mengelola emosi dan membangun resiliensi menjadi bekal penting bagi mahasiswa dalam menghadapi tantangan akademik maupun kehidupan kampus. Berangkat dari kebutuhan tersebut, Bagian Pengembangan Karir dan Alumni (PKA) Biro Kemahasiswaan dan Alumni (BKA) Untag Surabaya menggelar Workshop Manajemen Emosi bagi Mahasiswa bertajuk Bounce Back: Resilience & Emotional Mastery for College Life, Minggu (5/7/26).


Workshop yang berlangsung di Gedung Fakultas Kedokteran Untag Surabaya itu dibuka oleh Wakil Rektor I Untag Surabaya, Dr. Rr. Amanda Pasca Rini, M.Si., Psikolog. Kegiatan tersebut diikuti mahasiswa dari berbagai program studi, di antaranya Psikologi, Ilmu Komunikasi, Administrasi Bisnis, Manajemen, Akuntansi, Teknik Industri, serta program studi lainnya.


Berbeda dari seminar pada umumnya, workshop dikemas secara interaktif dengan pendampingan sembilan fasilitator dari Program Magister Psikologi Untag Surabaya. Peserta diajak mengikuti diskusi kelompok, permainan edukatif, latihan pernapasan, refleksi diri, hingga tantangan membangun menara dari kertas dan isolasi. Berbagai aktivitas tersebut dirancang untuk melatih kemampuan bekerja sama, berkomunikasi, beradaptasi, serta mengambil keputusan di bawah tekanan.


Materi utama disampaikan oleh Karolin Rista, S.Psi., M.Psi., Psikolog. Ia menekankan bahwa memahami emosi merupakan bagian penting dari proses bertumbuh. Menurutnya, seseorang tidak cukup hanya mengejar kebahagiaan, tetapi juga perlu membangun kesejahteraan psikologis serta kemampuan untuk bangkit ketika menghadapi berbagai tantangan hidup.


“Kalau hidup hanya untuk mencari kebahagiaan, mohon maaf Anda sedang mencari hal yang paling rendah di dunia ini," jelasnya (5/7)


Karolin menjelaskan, dalam psikologi kebahagiaan yang hanya berorientasi pada kesenangan bersifat sementara. Sebaliknya, kesejahteraan psikologis dicapai ketika seseorang mampu menjalani hidup secara lebih bermakna, mengenali potensi diri, terus berkembang, hingga mencapai kondisi flourishing, yakni mampu memberikan dampak positif bagi diri sendiri maupun lingkungan sekitar.


Menurutnya, manajemen emosi perlu dipadukan dengan resiliensi karena mahasiswa saat ini menghadapi tantangan akademik dan sosial yang semakin kompleks.


“Mahasiswa mengalami lonjakan gaya pergaulan yang baru sehingga emosinya cukup labil. Mereka perlu dilatih untuk bersikap realistis terhadap emosinya, sekaligus tetap tangguh menghadapi berbagai tantangan,” ujarnya.


Ia juga menyoroti perubahan pola interaksi mahasiswa setelah pandemi COVID-19. Generasi yang tumbuh pada masa pandemi, menurutnya, perlu kembali beradaptasi dengan lingkungan sosial yang lebih terbuka. Di sisi lain, perkembangan media sosial turut memengaruhi cara mahasiswa berkomunikasi dan mengelola emosi. Melalui workshop ini, peserta diajak mengenali emosi tanpa menyangkal perasaan yang muncul, sekaligus mempelajari strategi yang sehat untuk menghadapinya.


Selain penyampaian materi, peserta mengikuti sesi refleksi dengan menuliskan emosi yang paling sering mereka rasakan selama menjalani perkuliahan. Aktivitas tersebut menjadi salah satu momen yang paling berkesan karena membantu peserta menyadari kondisi emosional yang selama ini kerap diabaikan.


Salah satu peserta, Dewi Lestari, mahasiswa Program Studi Psikologi, mengaku sesi refleksi menjadi bagian yang paling membekas baginya.


“Bagian menulis surat paling relevan. Awalnya saya merasa tidak punya beban, tetapi setelah menulis saya baru sadar ternyata saya tetap memiliki kekhawatiran tentang masa depan. Emosi itu selalu ada, hanya saja selama ini tidak pernah saya akui,” ungkapnya.


Dewi juga berencana menerapkan teknik pernapasan lima detik yang dipelajari selama workshop sebagai cara sederhana untuk menenangkan diri saat menghadapi tekanan perkuliahan. Menurutnya, kegiatan tersebut terasa menyenangkan karena dikemas secara interaktif sehingga peserta tetap fokus tanpa terdistraksi.


Menutup kegiatan, Karolin mengapresiasi antusiasme mahasiswa yang aktif mengikuti setiap rangkaian workshop. Ia berharap pengalaman yang diperoleh dapat menjadi bekal bagi mahasiswa dalam menghadapi tantangan selama menjalani perkuliahan maupun setelah lulus.


“Semoga apa yang kita lakukan hari ini menjadi bekal ketika mereka menghadapi tantangan hidup. Mereka tidak akan menyangkal perasaannya, tetapi juga tidak berlarut-larut di dalamnya. Mereka akan belajar mencari jalan keluar dan benar-benar memahami makna healing yang sesungguhnya,” tutupnya (Aura)


https://untag-sby.ac.id
https://www.untag-sby.ac.id