Belajar bahasa Jepang langsung di negeri asalnya menjadi pengalaman yang kini dijalani Nabilah Adzra Ansori Putri, mahasiswa Program Studi Sastra Jepang, Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya. Mahasiswa angkatan 2024 itu tengah menjalani program magang di Hotel Arcana Izu, Shizuoka, Jepang.
Perjalanannya menuju program magang tersebut tidak berlangsung secara instan. Proses seleksi dimulai pada November 2025 dan dilanjutkan dengan pelatihan wawancara selama kurang lebih satu bulan sebelum memasuki tahap wawancara pada akhir Januari 2026.
Dari empat peserta yang mengikuti seleksi untuk Hotel Arcana Izu, hanya dua orang yang berhasil diterima, salah satunya Nabilah. Hotel Arcana Izu sendiri secara rutin membuka kesempatan magang bagi mahasiswa internasional setiap tahun dan sebelumnya juga pernah menerima mahasiswa Untag Surabaya pada 2023.
Bagi Nabilah, mengikuti program magang di Jepang bukan sekadar kesempatan bekerja di luar negeri. Ia ingin merasakan secara langsung kehidupan di Jepang sekaligus mengasah kemampuan berbahasa yang selama ini dipelajarinya di bangku kuliah. Di sisi lain, ia juga ingin mengenal lebih dekat budaya disiplin dan ketertiban yang menjadi ciri khas masyarakat Jepang.
“Saya ingin memperdalam kemampuan berbahasa Jepang secara langsung di lingkungan aslinya. Selain itu, saya juga ingin mempelajari budaya Jepang lebih dekat, terutama budaya disiplin dan ketertiban yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, seperti menghargai waktu, menjaga lingkungan sekitar, hingga kebiasaan memilah sampah,” ujarnya (6/7)
Impian itu mulai terwujud ketika Nabilah tiba di Jepang pada 27 April 2026. Sejak saat itu, ia mulai beradaptasi dengan lingkungan dan budaya baru, sekaligus mengenal ritme kerja di industri perhotelan Jepang melalui penugasannya di bagian housekeeping Hotel Arcana Izu.
Pekerjaan yang dijalaninya menuntut ketelitian dalam setiap detail. Mulai dari menjaga kebersihan kamar, memastikan penataan ruangan tetap rapi, hingga menggunakan peralatan seperti piring dan gelas bernilai tinggi, semuanya harus dilakukan dengan penuh kehati-hatian.
“Mulai dari kebersihan kamar, kerapian penataan, hingga penggunaan peralatan seperti piring dan gelas yang bernilai tinggi, semuanya harus ditangani dengan sangat hati-hati dan teliti,” jelasnya.
Pengalaman tersebut memberinya pemahaman baru mengenai standar pelayanan di industri perhotelan Jepang. Menurutnya, perhatian terhadap detail menjadi bagian penting dari budaya kerja, bahkan hal-hal sederhana seperti posisi barang atau rambut yang tertinggal di dalam kamar tidak luput dari perhatian.
Selain dituntut teliti, Nabilah juga harus beradaptasi dengan komunikasi dan ritme kerja yang berbeda. Berinteraksi menggunakan bahasa Jepang bersama rekan kerja membutuhkan kepercayaan diri yang terus diasah, sementara kecepatan kerja di bagian housekeeping mengharuskannya mampu menyesuaikan diri dalam waktu singkat.
“Saat ini saya masih terus belajar agar bisa berbicara lebih lancar dan lebih percaya diri saat berkomunikasi dengan tim kerja. Selain itu, saya juga sedang berusaha menyesuaikan pace kerja karena staf Jepang sudah sangat terbiasa bekerja dengan ritme yang cepat,” ungkapnya.
Di tengah berbagai tantangan tersebut, suasana kerja yang kompak justru menjadi pengalaman yang paling berkesan baginya. Dukungan antarrekan kerja membuat proses adaptasi terasa lebih ringan meski pekerjaan cukup menguras tenaga.
“Menurut saya, suasana kerja yang kompak dan saling menyemangati menjadi salah satu hal penting agar pekerjaan dapat berjalan dengan baik meskipun sedang lelah,” katanya.
Pengalaman magang ini tidak hanya memberikan pengalaman profesional, tetapi juga memperkuat bekalnya untuk meniti karier di masa depan. Pembelajaran bahasa dan budaya Jepang yang diperoleh selama kuliah di Program Studi Sastra Jepang Untag Surabaya menjadi modal penting dalam menghadapi lingkungan kerja internasional. Dukungan dari Ketua Program Studi serta para dosen juga menjadi penyemangat selama menjalani magang.
Nabilah berharap semakin banyak mahasiswa Untag Surabaya berani mengambil kesempatan untuk belajar dan mengembangkan diri di luar negeri.
“Tetap semangat dan jangan mudah menyerah. Akan ada banyak proses yang harus dilalui dan dipersiapkan dengan serius. Namun, semua usaha tersebut akan sangat sepadan dengan pengalaman dan kesempatan yang bisa kalian dapatkan di Jepang,” tutup Nabilah (Dini)