Kualitas air minum isi ulang yang sering diragukan masih menjadi persoalan bagi masyarakat. Menjawab hal tersebut, Aditya Vahresi, mahasiswa Program Studi Teknik Elektro Untag Surabaya, menciptakan alat yang mampu memberikan data objektif mengenai kelayakan air untuk dikonsumsi.
Ide inovatif ini lahir dari pengalaman pribadinya saat mendaki gunung, di mana ia hanya mengandalkan kepercayaan terhadap mata air pegunungan. Pengalaman tersebut menjadi titik awal tugas akhirnya yang berjudul “Deteksi Kualitas Air Layak Minum dengan Sensor pH dan Turbidity”.
“Di pegunungan biasanya kita minum dari mata air berdasarkan kepercayaan saja. Dari situ saya berpikir, bagaimana kalau ada alat yang bisa memberikan data yang valid,” jelas Aditya (13/2)
Penelitian awalnya berfokus pada pengujian sumber mata air alami. Namun, saat seminar proposal, dosen pembimbing mendorong agar pengembangan alat juga diarahkan untuk sektor usaha air minum isi ulang dan air kemasan.
“Banyak masyarakat masih meragukan kebersihan air isi ulang karena tidak mengetahui secara pasti sumber dan proses pengolahannya. Oleh karena itu, alat ini dirancang agar dapat dipasang langsung pada instalasi depot air minum isi ulang, sehingga pelaku usaha maupun konsumen dapat mengetahui kualitas air secara transparan,” tambahnya.
Sistem yang dikembangkan menggunakan dua sensor utama, sensor pH dan sensor turbidity. Sensor pH berfungsi mengukur tingkat keasaman atau kebasaan air, dengan rentang normal air layak minum berada pada kisaran pH 6 hingga 8,5. Sensor turbidity mengukur tingkat kekeruhan air akibat partikel seperti debu, pasir, atau zat lain yang tercampur.
Hasil pengukuran dari kedua sensor ini kemudian ditampilkan pada layar dalam bentuk status kelayakan air secara otomatis. Pendekatan ini membuat pengujian lebih praktis dibandingkan metode laboratorium konvensional yang membutuhkan waktu dan biaya lebih besar.
Tantangan terbesar dalam pengembangan alat ini adalah tahap kalibrasi sensor. Berbeda dengan sensor lain yang dapat langsung digunakan setelah dipasang, sensor pH dan turbidity membutuhkan penyetelan presisi agar hasil pengukuran akurat.
“Kalibrasi harus benar-benar tepat supaya output sesuai harapan. Itu yang paling menantang. Proses ini menjadi kunci agar data yang dihasilkan benar-benar dapat dipercaya,” katanya
Aditya juga menilai sistem ini memiliki potensi dikembangkan menjadi produk berbasis Internet of Things (IoT). Ke depannya, alat ini diharapkan bisa terhubung dengan sistem monitoring digital sehingga kualitas air dapat dipantau secara real-time. Jika terealisasi, inovasi ini tidak hanya meningkatkan transparansi usaha air minum isi ulang, tetapi juga memberikan rasa aman bagi penjual dan konsumen karena data kualitas air dapat diakses langsung.
Penelitian ini menunjukkan bagaimana integrasi sensor dan sistem kontrol sederhana dapat memberikan solusi konkret bagi permasalahan sehari-hari di bidang kesehatan dan lingkungan.
Atas inovasi tersebut, tugas akhir Aditya dinobatkan sebagai salah satu karya menarik media massa dan membuatnya menjadi salah satu wisudawan dengan karya menarik pada Wisuda ke-132 Gasal 2025/2026 Untag Surabaya pada14 Februari 2026, karena dinilai relevan dengan kebutuhan masyarakat serta memiliki potensi pengembangan lebih lanjut.
Aditya berharap teknologi yang dikembangkannya dapat terus disempurnakan dengan penambahan parameter pengujian lain agar hasil deteksi semakin komprehensif.
“Harapannya bisa memberikan data yang valid dan teknologinya terus berkembang agar hasilnya semakin memuaskan,” tutupnya
Melalui inovasi ini, karya Aditya menunjukkan bagaimana riset mahasiswa dapat berkontribusi langsung pada persoalan kesehatan dan lingkungan di masyarakat, sekaligus membuka peluang pengembangan teknologi pemantauan kualitas air yang lebih transparan dan mudah diakses. (Dini)