Kebutuhan efisiensi dalam proses pengemasan masih menjadi tantangan bagi banyak pelaku usaha kecil. Menjawab hal itu, Ego Fajar Maulana, mahasiswa Teknik Mesin Untag Surabaya, merancang mesin filling biji-bijian berbasis otomasi untuk membantu proses pengemasan UMKM.
Ide perancangan alat ini muncul dari pengamatannya terhadap warung sembako milik kerabat yang masih menimbang biji-bijian secara manual sebelum dikemas ulang menjadi sachet rentengan.
Melalui tugas akhir berjudul “Rancang Bangun Mesin Filling Biji-Bijian dengan Sistem Pengisian Otomatis Berbasis Mikrokontroler”, Ego menghadirkan mesin yang mampu menimbang sekaligus mengisi bahan secara otomatis dengan akurasi stabil dan biaya produksi yang relatif terjangkau. Karya ini juga menjadi salah satu karya menarik dari Fakultas Teknik Untag Surabaya pada lulusan Gasal 2025/2026.
Ego, sapaan akrabnya, merupakan mahasiswa kelas malam yang telah bekerja di sejumlah perusahaan manufaktur sebagai operator produksi. Lulus pada Wisuda ke-132 Untag Surabaya tahun 2026, ia melanjutkan studi untuk memperdalam pemahaman akademis agar pengalaman praktik di industri memiliki landasan teori yang lebih kuat.
Pengalaman tersebut menjadi fondasi utama dalam perancangan mesin, bahkan mesin pengisian di pabrik FMCG tempatnya bekerja di Sidoarjo menjadi referensi pengembangan alat.
Secara teknis, mesin yang dirancang memiliki dua mode operasi yaitu manual input dan preset. Operator cukup memasukkan berat yang diinginkan serta jumlah penimbangan, lalu sistem bekerja otomatis sesuai pengaturan. Conveyor membawa bahan menuju wadah yang dilengkapi load cell untuk membaca berat secara real-time. Ketika berat tercapai, sistem berhenti otomatis. Sensor proximity juga dipasang untuk mendeteksi keberadaan wadah sehingga proses pengisian berlangsung lebih cepat dan minim kesalahan.
Selain menu utama, tersedia fitur tare untuk kalibrasi load cell dan counter untuk menghitung jumlah produksi. Dari sisi kinerja, mesin ini meningkatkan efisiensi kerja sekaligus menjaga konsistensi berat timbangan. Ego menekankan bahwa otomasi tidak selalu identik dengan biaya tinggi. Sistem dirancang efisien namun tetap ekonomis agar dapat dijangkau pelaku UMKM tanpa membebani harga jual produk.
Meski terbiasa merancang komponen mekanik seperti conveyor dan roller, tantangan terbesar justru muncul pada rangkaian elektronik dan pemrograman mikrokontroler Arduino berbasis bahasa C/C++. Pilihan menggunakan Arduino dipengaruhi pembelajaran pada mata kuliah mekatronika, karena platform open-source tersebut fleksibel dan andal untuk mengontrol berbagai sensor dan aktuator dalam satu sistem terintegrasi.
“Kendala terbesar ada di pemrograman, karena satu semester belajar masih terasa kurang. Tapi komunitas Arduino cukup besar, terutama di media sosial, dan itu sangat membantu proses belajar saya,” mahasiswa Teknik Mesin angkatan 2021 tersebut (14/2)
Inovasi ini menunjukkan bahwa otomasi tidak hanya milik industri besar. Dengan pendekatan yang tepat, teknologi pengisian otomatis dapat diterapkan pada skala usaha kecil hingga menengah. Ego berharap mesin rancangannya dapat membantu UMKM meningkatkan kecepatan produksi, menjaga akurasi berat, serta menekan potensi kerugian akibat kesalahan penimbangan tanpa menaikkan harga barang secara signifikan.
“Inovasi kecil ini semoga bisa membantu UMKM memproduksi barang lebih cepat, efisien, dan akurat,” tutupnya.
Melalui karya tersebut, integrasi pengalaman industri dan pendekatan akademis melahirkan solusi praktis yang berpotensi mendorong penerapan otomasi pada sektor manufaktur skala kecil di Indonesia. (Dini)