Merantau dari NTT, Atto Lulus Ilmu Komunikasi Untag Surabaya

  • 27 Februari 2026
  • 56

Perjalanan meraih gelar sarjana bagi sebagian orang mungkin cukup ditempuh dari ruang kelas ke ruang wisuda. Namun bagi Wiliarto Jangga Sai, yang akrab disapa Atto, kelulusan dari Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Untag Surabaya adalah puncak dari perjalanan panjang merantau, beradaptasi, dan bekerja di kota yang jauh dari kampung halaman.


Perjalanan meraih gelar sarjana bagi sebagian orang mungkin cukup ditempuh dari ruang kelas ke ruang wisuda. Namun bagi Wiliarto Jangga Sai, yang akrab disapa Atto, kelulusan dari Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Untag Surabaya adalah puncak dari perjalanan panjang merantau, beradaptasi, dan bekerja di kota yang jauh dari kampung halaman.


Atto berasal dari Loha, Kecamatan Pacar, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, sekitar satu setengah jam perjalanan dari Labuan Bajo. Dari wilayah yang dikenal dengan panorama alamnya itu, ia memutuskan meninggalkan rumah demi mengejar pendidikan tinggi sekaligus pengalaman hidup baru di Surabaya. Keputusan tersebut lahir dari keinginannya memperluas wawasan dan keluar dari zona nyaman.


Tahun 2020 menjadi titik awal perjalanannya. Di tengah situasi pandemi Covid-19, Atto tetap mantap berangkat ke Surabaya untuk memulai perkuliahan di Untag Surabaya dengan protokol kesehatan yang saat itu diberlakukan ketat. Ia terbang bersama sepupunya yang kembali ke Surabaya usai libur kenaikan semester. Setibanya di Kota Pahlawan, mereka tinggal bersama di sebuah kos di kawasan Semolowaru Selatan, Surabaya.


“Saya kuliah di Untag Surabaya karena ingin mencari wawasan baru, teman baru, lingkungan baru, dan yang utama mendapatkan ilmu pengetahuan yang lebih luas dari sebelumnya,” ujarnya saat menjadi wisudawan ke 132 (15/2)


Merantau membawanya pada pengalaman pertama menghadapi perbedaan budaya. Hal-hal sederhana seperti cuaca hingga bahasa sehari-hari menjadi tantangan awal yang harus ia sesuaikan. Panasnya Surabaya, menurutnya, terasa berbeda dibanding kampung halamannya.


“Di sini panasnya beda, sama-sama panas tapi rasanya lebih panas di Surabaya,” katanya sambil tertawa.


Bahasa juga menjadi pengalaman baru. Sebagai perantau dari Nusa Tenggara Timur, ia sempat terkejut ketika banyak orang menggunakan bahasa Jawa dalam percakapan sehari-hari.


“Kadang ketemu orang baru langsung pakai bahasa Jawa. Awalnya bingung, tapi lama-lama mulai terbiasa,” ungkapnya.


Di tengah proses adaptasi itu, Atto menjalani kehidupan mahasiswa yang tidak sepenuhnya diisi kegiatan akademik. Selama kuliah, ia juga bekerja membantu kakaknya menjalankan usaha jual beli motor bekas di Surabaya. Ia sengaja mengambil jadwal kuliah pagi agar sore harinya dapat membantu jika ada pesanan. Rutinitas tersebut membuat waktunya terbagi antara kampus dan pekerjaan, menuntutnya belajar mengatur tenaga dan fokus agar keduanya tetap berjalan. Soal penghasilan, ia tidak menerima gaji tetap.


“Saya tidak digaji tetap. Tapi kalau ada pesanan, biasanya ada uang untuk saya,” tukasnya


Baginya, pengalaman itu bukan sekadar soal materi, melainkan pembelajaran tentang tanggung jawab dan kemandirian. Menjalani dua peran sekaligus sebagai mahasiswa dan pekerja bukan perkara mudah. Atto harus belajar mengatur waktu, tenaga, dan fokus agar keduanya berjalan seimbang. Ia mengakui perjalanannya tidak selalu mulus.


“Saya angkatan 2020. Lulusnya memang agak lama karena sempat sulit menyeimbangkan kuliah sambil kerja,” tukasnya jujur.


Memasuki semester akhir, tantangan kembali hadir saat menyusun skripsi. Ia sempat berdiskusi dengan teman-temannya untuk mencari judul yang tepat, hingga akhirnya memilih topik yang dekat dengan identitasnya sebagai putra Manggarai Barat, yakni “Pengaruh Terpaan Konten Akun Instagram @labuanbajo_info Terhadap Minat Berkunjung Pengikut Berwisata di Labuan Bajo.” Ia menilai topik tersebut dapat menghubungkan ilmu komunikasi yang dipelajarinya dengan potensi pariwisata kampung halaman.


“Saya memilih judul itu karena berhubungan dengan daerah saya dan juga sesuai dengan apa yang saya pelajari di perkuliahan,” jelasnya.


Namun, seluruh proses itu justru membentuk ketangguhan dirinya. Dari Loha hingga Surabaya, dari masa pandemi hingga hari wisuda, Atto membuktikan bahwa jarak dan tantangan bukan penghalang untuk meraih pendidikan tinggi. Di balik toga yang ia kenakan, tersimpan kisah tentang keberanian merantau, kerja keras membantu keluarga, serta tekad menyelesaikan apa yang telah dimulai. (Boby)


https://untag-sby.ac.id
https://www.untag-sby.ac.id

\