Bagi masyarakat Jepang, usia 100 tahun bukan lagi sesuatu yang luar biasa. Data terbaru Kementerian Kesehatan Jepang menunjukkan jumlah warga berusia 100 tahun atau lebih hampir menembus angka 100 ribu orang. Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan gambaran dari budaya hidup sehat yang telah mengakar kuat sejak lama.
Fenomena ini tidak berdiri sendiri. Panjang umur orang Jepang adalah buah dari budaya hidup sehat yang dibentuk sejak dini, bahkan sejak mereka duduk di bangku sekolah dasar.
Budaya Aktivitas Fisik Sejak Usia Dini
Di Jepang, anak-anak SD wajib berangkat sekolah dengan berjalan kaki. Zonasi pendidikan yang ketat membuat jarak sekolah dengan rumah relatif terjangkau. Hanya di daerah pegunungan atau pedesaan terpencil, sekitar 1 persen jumlahnya, anak-anak tidak bisa melakukannya. Mereka membawa ransel besar berisi buku dan minuman, sementara makanan siang sudah disiapkan di sekolah.
Kebiasaan jalan kaki ini tidak dilakukan sendirian. Anak-anak biasanya berangkat berkelompok bersama tetangga, dengan pendampingan orang dewasa yang secara sukarela ikut menjaga, terutama bagi murid kelas 1 hingga kelas 3.
Peran Parent Teacher Association (PTA) juga terlihat, di mana para orang tua bergiliran mengawal anak-anak menuju sekolah. Pola ini membuat sejak kecil anak-anak Jepang terbiasa bergerak, beraktivitas, dan membangun budaya hidup sehat.
Saat beranjak ke jenjang SMP, barulah mereka diperbolehkan bersepeda, tetapi prinsipnya tetap sama: aktivitas fisik menjadi bagian dari keseharian.
Pola Makan Bergizi dan Teratur
Selain berjalan kaki, faktor lain yang tak kalah penting adalah pola makan. Anak SD di Jepang wajib makan siang di sekolah, gratis, disiapkan dapur sekolah dengan pengawasan ahli gizi, serta memenuhi standar ketat nutrisi dan higienitas. Anak-anak tidak diperbolehkan jajan sembarangan.
Pola makan sehat ini dikenalkan sejak usia dini. Kombinasinya pun lengkap, ada karbohidrat, protein, sayur, buah, dan susu. Yang menarik, budaya makan Jepang menekankan pentingnya makanan fermentasi, seperti sup miso, acar (sukemono), atau umeboshi (buah fermentasi). Makanan ini membantu pencernaan sehingga lambung tidak bekerja terlalu keras. Tidak heran jika penyakit lambung relatif jarang terjadi di Jepang.
Olahraga dan Aktivitas Seumur Hidup
Olahraga juga menjadi kewajiban di sekolah. Setiap sekolah memiliki lapangan luas serta gymnasium untuk musim dingin. Tidak ada alasan untuk tidak berolahraga. Di luar sekolah, banyak fasilitas olahraga umum tersedia sehingga aktivitas fisik benar-benar menjadi gaya hidup masyarakat.
Faktor lain yang mendukung panjang umur adalah sistem jaminan sosial Jepang. Semua warga wajib memiliki asuransi kesehatan nasional, ditambah opsi asuransi swasta. Menariknya, perusahaan asuransi swasta tidak menanggung penyakit akibat pola hidup buruk. Hal ini mendorong masyarakat lebih disiplin menjaga kesehatan agar tetap produktif.
Jepang juga memiliki sistem pensiun nasional bernama nenkin. Setiap orang, baik pekerja formal maupun petani, dapat membayar iuran untuk menerima dana pensiun di usia tertentu. Dengan adanya jaminan ini, para lansia tidak terlalu khawatir akan masa tua mereka.
Inspirasi dari Okinawa
Jika berbicara soal panjang umur, Okinawa selalu menjadi rujukan. Wilayah selatan Jepang ini terkenal dengan pola makan sehat berbasis sayuran, buah tropis seperti pepaya, serta rumput laut. Mereka juga terbiasa berolahraga bersama, bukan sendirian. Kombinasi pola makan segar, rendah makanan olahan, dan aktivitas fisik membuat masyarakat Okinawa dikenal awet muda dan berumur panjang.
Uniknya, di Jepang usia 100 tahun bukan sekadar angka statistik, tetapi sering dijadikan target pribadi. Dalam percakapan sehari-hari, orang tua kerap berkata, “Saya masih punya 30 tahun lagi untuk mencapai 100 tahun.” Ungkapan ini mencerminkan optimisme sekaligus motivasi untuk menjaga kesehatan demi mencapai usia tersebut.
Dari uraian ini jelas bahwa panjang umur di Jepang bukanlah kebetulan. Ia lahir dari budaya disiplin, pola makan sehat, aktivitas fisik teratur, dan dukungan sistem sosial yang kuat. Indonesia tentu tidak bisa menyalin semua hal begitu saja karena kondisi sosial dan budaya berbeda.
Namun, banyak hal yang bisa diteladani, membiasakan anak berjalan kaki, membangun budaya makan sehat sejak dini, serta menyediakan jaminan sosial yang menenteramkan. Panjang umur tidak sekadar hidup lama, melainkan hidup sehat, mandiri, dan bermakna.
Lebih dari itu, kultur sehat bisa ditanamkan lewat kebijakan kecil yang konsisten sejak dini. Jika Jepang mampu membangun budaya sehat melalui langkah sederhana, Indonesia pun bisa melakukannya dengan memulai dari rumah, sekolah, dan lingkungan sekitar. (Boby)
*) Umul Khasanah, S.Pd., M.A. Kepala Program Studi (Kaprodi) Sastra Jepang Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya