Pesona Bajidor Kahot Jawa Barat yang Terus Menari di Generasi Muda

  • 20 Februari 2026
  • 52

Seni tari tradisional Nusantara terus menemukan ruang hidup di tangan generasi muda. Salah satunya melalui penampilan Tari Bajidor Kahot, bagian dari khazanah jaipong Jawa Barat, yang diperkenalkan dalam aktivitas seni di lingkungan sekolah sebagai upaya merawat keberagaman budaya daerah.


Tari Bajidor Kahot merupakan bagian dari tari jaipong yang berasal dari Jawa Barat. Tarian ini menggambarkan sosok gadis Jawa Barat yang lincah, ekspresif, dan berkarakter kuat. Gerakannya dinamis dan energik, menonjolkan kepercayaan diri perempuan dalam mengekspresikan diri melalui seni.


Penampilan ini menjadi kali pertama Tari Bajidor Kahot dibawakan dalam Wisuda ke-132 Untag Surabaya oleh siswa SMA 17 Agustus 1945 (SMATAG) Surabaya. Pembina Ekstrakurikuler Tari SMATAG Surabaya, Maharani Dhinda Ganes Wahyuningtyas, S.Pd., menjelaskan bahwa pemilihan tarian tersebut merupakan bentuk eksplorasi budaya sekaligus pengenalan keberagaman seni Nusantara kepada siswa.


“Ini pertama kalinya kami membawakan tari dari Jawa Barat. Anak-anak belajar karakter gerak yang berbeda dari biasanya,” ujarnya (14/2)


Para penari menjalani latihan selama satu bulan dengan intensitas tiga kali dalam seminggu. Tantangan terbesar terletak pada adaptasi karakter gerak, mengingat mereka berasal dari Jawa Timur yang memiliki ciri gerakan berbeda dengan jaipong.


“Siswa- siswa berasal dari Jawa Timur, sementara Jaipong memiliki ciri gerak khas Jawa Barat yang berbeda. Mereka dituntut untuk benar-benar memahami karakter geraknya, bukan hanya menghafal koreografi,” jelasnya


Selain perbedaan karakter tari, pembagian waktu juga menjadi tantangan tersendiri. Para siswa tetap harus menyeimbangkan latihan dengan aktivitas akademik sebagai pelajar aktif. Meski demikian, proses mempelajari budaya daerah lain menjadi pengalaman berharga bagi mereka.


Ia menilai eksistensi tarian tradisional saat ini semakin memudar, sehingga pengenalan seni daerah melalui kegiatan sekolah menjadi penting. Pengenalan tari dari berbagai provinsi dipandang sebagai bagian dari pembentukan kesadaran budaya generasi muda. Pelestarian tradisi, menurutnya, tidak hanya bergantung pada komunitas seni profesional, tetapi juga pada institusi pendidikan.


“Untuk generasi muda, jangan malu, takut, atau ragu membudayakan tradisi. Baik di bidang seni tari maupun seni lainnya, budaya harus tetap dijaga,” pesan Dinda


Penampilan seni tari daerah di lingkungan pendidikan menunjukkan bahwa warisan budaya Nusantara tetap dapat hidup melalui generasi muda. Di tengah perubahan zaman, ruang pendidikan berperan penting dalam merawat, memperkenalkan, dan menumbuhkan apresiasi terhadap kekayaan seni tradisional kepada generasi penerus. (Dini)


https://untag-sby.ac.id
https://www.untag-sby.ac.id

\