Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan salah satu inisiatif besar pemerintah untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia. Program ini dirancang agar anak-anak, remaja, ibu hamil, dan lansia mendapatkan asupan makanan yang bergizi seimbang secara berkala, dengan harapan menurunkan angka stunting dan anemia yang masih cukup tinggi di Indonesia.
Sebagai seorang dokter anak dan pendidik, saya melihat Program MBG yang digagas pemerintah sejatinya memiliki tujuan yang sangat mulia. Program ini lahir dari keprihatinan terhadap tingginya angka stunting dan anemia di Indonesia, dua persoalan yang diam-diam menggerogoti kualitas generasi muda bangsa.
Angka stunting nasional saat ini berada di kisaran 21%, sedangkan anemia pada remaja dan orang tua mencapai sekitar 20%. Dua kondisi ini berdampak langsung pada kecerdasan, kemampuan belajar, serta daya tahan tubuh anak-anak dan remaja Indonesia.
Melalui MBG, pemerintah berupaya menyediakan makanan yang bergizi seimbang, seperti yang sudah berhasil diterapkan di Amerika Serikat dengan program “school lunch” dan di India melalui program midday meal.
Tujuannya sederhana, memastikan setiap anak Indonesia mendapat asupan yang cukup untuk tumbuh sehat, cerdas, dan produktif. Namun sayangnya, di balik tujuan yang luhur, pelaksanaannya di lapangan masih jauh dari harapan.
Ketika Makanan Bergizi Justru Membahayakan
Beberapa waktu lalu, kita dikejutkan oleh berita keracunan massal yang melibatkan ribuan anak penerima program MBG di berbagai daerah. Total korban mencapai sekitar 1.500 orang, sebuah angka yang tidak bisa dianggap remeh.
Sebagai tenaga kesehatan, saya melihat akar masalahnya bukan pada konsep MBG itu sendiri, tetapi pada pelaksanaan dan pengawasan yang sangat lemah. Banyak makanan yang disajikan ternyata tidak memenuhi standar keamanan pangan.
Ada makanan yang dimasak malam hari dan baru diedarkan keesokan siangnya. Padahal, secara medis, makanan matang seharusnya dikonsumsi tidak lebih dari tiga jam setelah proses pengolahan.
Proses yang keliru ini memberi ruang bagi bakteri patogen seperti Escherichia coli (E. coli) dan Salmonella untuk berkembang biak. Kedua bakteri ini bisa menyebabkan mual, muntah, diare, nyeri perut, hingga demam, dan pada anak-anak, efeknya bisa lebih berat.
Jika kita menemukan E. coli di makanan, itu artinya makanan tersebut sudah tercemar tinja manusia, sebuah sinyal bahwa kebersihan dapur dan sanitasi dalam penyajian makanan sangat buruk.
Peran Ahli Gizi yang Sering Terlupakan
Hal lain yang sering diabaikan adalah minimnya keterlibatan tenaga ahli gizi dalam penyusunan dan pengawasan menu MBG. Padahal, ahli gizi memegang peranan penting untuk memastikan bahwa makanan yang disajikan benar-benar mampu memenuhi kebutuhan makronutrien dan mikronutrien anak-anak.
Komposisi ideal dalam satu porsi makanan seharusnya mengandung karbohidrat 50–55%, protein 10–20%, lemak 20–30%, serat 15–25 gram per hari, disertai dengan asupan vitamin A, zat besi, zinc, dan mineral lain yang menunjang tumbuh kembang anak.
Namun yang sering kita lihat justru sebaliknya. Anak-anak menerima lauk seperti tempe setipis tisu, buah semangka seiris kecil, atau ayam sepotong kecil. Tentu, porsi seperti ini jauh dari cukup untuk membantu mengatasi stunting atau anemia.
Inilah mengapa pengawasan oleh ahli gizi tersertifikasi sangat dibutuhkan di setiap dapur penyedia MBG.
Pengawasan Lintas Sektor, Kunci Keberhasilan MBG
Untuk memastikan keberlanjutan program ini. Menurut saya, pengawasan tidak boleh hanya dilakukan oleh satu pihak. Dibutuhkan sinergi lintas sektor, antara Dinas Kesehatan, BPOM, ahli gizi, dan masyarakat umum. Dapur penyedia MBG harus memiliki sertifikasi higienitas, pekerjanya perlu dilatih secara resmi, dan distribusi makanan harus diawasi hingga ke titik penerima.
Program ini bukan tentang “memberi makan gratis” semata, tetapi tentang membangun fondasi generasi sehat dan cerdas. Jika kualitas makanan diabaikan, maka dampaknya bukan hanya pada kesehatan jangka pendek, seperti keracunan atau absen sekolah. Lebih jauh lagi, dalam jangka panjang, anak-anak bisa kehilangan potensi kecerdasan, daya saing, bahkan kualitas hidup mereka.
Tidak Perlu Mahal untuk Bergizi
Sering kali muncul persepsi bahwa makanan bergizi itu mahal. Padahal, kunci gizi seimbang bukan pada harga bahan, melainkan pada komposisi dan cara pengolahan.
Indonesia adalah negeri yang kaya sumber pangan. Kita punya tahu, tempe, ikan lele, telur, bayam, dan singkong, semua mengandung nutrisi penting dengan harga terjangkau. Masalahnya, kita sering lebih fokus pada makanan yang “terlihat mewah” daripada yang benar-benar bergizi dan aman.
Di sinilah pentingnya edukasi gizi kepada masyarakat. Kita perlu menanamkan kesadaran bahwa makanan sederhana pun bisa menjadi “superfood” jika diolah dengan benar. Program MBG seharusnya menjadi contoh bahwa keberhasilan bukan diukur dari kemewahan, tapi dari nilai gizi yang tersaji di setiap piring.
Sebagai bangsa yang besar, kita harus memastikan bahwa setiap suapan yang diberikan kepada anak-anak Indonesia bukan hanya mengenyangkan, tetapi juga menyehatkan dan mencerdaskan. Karena dari piring mereka, masa depan bangsa ini sedang kita bentuk. (Boby)
*) dr. Ronny Mulyono, Sp.A, Ketua Program Studi (Kaprodi) Sarjana Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya