Sesudah Hujan, CeCUR Untag Rekam Memori Banjir Sememi

  • 04 Maret 2026
  • 167

Fakultas Teknik Untag Surabaya melalui Center for Climate and Urban Resilience (CeCUR) mendorong penguatan ketahanan kota lewat Pameran Jurnal Kreatif bertajuk “Sesudah Hujan”, pada 1 Maret 2026. Kegiatan ini menjadi ruang temu antara kampus dan warga untuk membaca ulang jejak banjir di RW IV Sememi Kidul.


Sebagai organisator, CeCUR memfasilitasi lokakarya sekaligus pameran sebagai wadah menghimpun pengalaman warga terkait banjir yang kerap melanda wilayah tersebut. Pusat studi di bawah naungan Untag Surabaya ini berperan menjembatani riset akademik dengan realitas sosial.


Pameran ini menghadirkan suasana yang menyatu dengan lingkungan warga melalui instalasi bernuansa kolam, membangkitkan ingatan masa kecil tentang banjir yang pernah akrab dalam keseharian. Deretan karya gambar menampilkan kisah genangan, limpasan air, hingga perubahan lingkungan yang dirasakan masyarakat dari waktu ke waktu.


Setiap pengunjung juga menerima stiker bergambar simbol ikan sebagai ikon kegiatan. Simbol tersebut merepresentasikan cerita lama tentang hasil tambak yang kerap melimpah setelah hujan, sekaligus menegaskan kedekatan kampung dengan air sebagai bagian dari identitas warganya.


Kepala CeCUR, Dr. Ir. R.A. Retno Hastijanti, M.T., IPU., IAI., APEC Eng., sekaligus Dekan  Fakultas Teknik Untag Surabaya menjelaskan bahwa kegiatan tersebut berangkat dari keyakinan bahwa setiap komunitas menyimpan pengetahuan penting tentang lingkungannya.


“Kami ingin menggali memori terhadap banjir. Saat bencana terjadi, di situlah kita belajar solusi untuk masa depan. Setiap komunitas selalu menyimpan pengetahuan, dan masyarakat adalah laboratorium hidup,” jelasnya (1/3)


Menurutnya, pembelajaran mahasiswa tidak cukup berlangsung di ruang kuliah tanpa penerapan langsung di masyarakat.


“Memori menjadi ilmu pengetahuan yang harus terus digali. Itu akan menjadi sumbangan bagi pengetahuan kita di masa depan,” tegasnya.


Respons positif datang dari warga yang merasakan langsung perubahan lingkungan. Ketua RW Sememi Kidul, Mochamad Tohir Muchsin, S.Pd., mengaku bangga atas inisiatif tersebut karena mampu menghidupkan kembali sejarah lokal yang mulai terlupakan.


“Kami bahagia dan bangga sekali. Banyak pengetahuan sejarah yang mulai pudar, sekarang tergali kembali. Dulu cerita nenek moyang tentang tanah Sememi dari Margomulyo sampai Gendong itu luas, tapi kenyataannya sekarang menyempit dan sempat terjadi perbedaan pandangan. Kegiatan ini jadi membuka wawasan kami,” ujar Tohir


Ia juga mengenang masa kecil ketika wilayah itu masih menghasilkan ikan dari tambak-tambak alami. Perubahan lanskap membuat kawasan tersebut kini kerap terdampak limpasan air.


“Dulu kami dapat rezeki dari ikan yang keluar setelah hujan. Sekarang kalau banjir datang, yang ada justru kesusahan membersihkan sisa kotorannya. Tapi saya bangga masih ada pemuda Surabaya yang peduli dan mau berkolaborasi dengan kampus,” tambahnya.


Tohir berharap kerja sama tidak berhenti pada pameran semata, melainkan berkelanjutan hingga membawa kemajuan nyata bagi wilayah terdampak.


“Output-nya tidak hanya pameran, tetapi bisa berupa teknologi seperti website atau peta sejarah lingkungan. Produksinya pun tidak hanya oleh mahasiswa, melainkan bersama masyarakat, karena hasilnya akan kembali ke masyarakat,” tambahnya.


Pandangan warga tersebut sejalan dengan refleksi komunitas pendamping yang melihat persoalan banjir bukan sekadar peristiwa musiman, melainkan bagian dari perubahan tata ruang kota. Doni Rahma dari komunitas Atnropology Influence (Anthfluence) sebagai salah satu penggagas kegiatan, menjelaskan bahwa tema “Sesudah Hujan” dipilih sebagai momen reflektif untuk menilai bagaimana kota merespons air.


“Sesudah hujan adalah waktu yang tepat untuk melihat seberapa kuat wilayah merespons datangnya air. Perkembangan kota semakin bertolak belakang dengan alam. Air dihilangkan dan lahan dipadatkan secara ekonomi,” ungkapnya.


Menurutnya, kondisi tersebut menjadikan kampung sebagai wilayah limpahan air dari kawasan perumahan yang lebih tinggi.


“Banyak rumah yang makin tenggelam. Karena itu kami membuat lokakarya untuk menggali memori warga dan siasat mereka menghadapi banjir agar bisa jadi pembelajaran,” katanya.


Pameran ini menegaskan bahwa upaya menjawab persoalan lingkungan tidak selalu bermula dari teknologi tinggi, tetapi dari kemauan mendengar dan merekam pengalaman warga. Dengan pendekatan antropologis dan partisipatif, ingatan tentang banjir di Sememi bertransformasi dari cerita lisan menjadi pengetahuan bersama yang terdokumentasi.


Lebih dari ajang pamer karya, kegiatan ini memperlihatkan peran kampus sebagai penghubung antara riset akademik dan pengalaman nyata masyarakat, sebuah langkah konkret menuju ketahanan kota yang lebih inklusif. (Dini)


https://untag-sby.ac.id
https://www.untag-sby.ac.id