SMATAG Surabaya Jadi Panggung International Join Community Service

  • 05 Maret 2026
  • 192

SMA 17 Agustus 1945 (SMATAG) Surabaya menjadi tuan rumah kegiatan International Join Community Service pada (3/3/26), mengajak siswa memahami peran bahasa dan lintas budaya dalam menjaga perdamaian dunia.


Program kolaborasi Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Untag Surabaya bersama Prodi Sastra Jepang Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Untag Surabaya ini mengusung tema “Formation of The Character of The Young Generation Who Love World Peace Through Cross-Cultural Understanding”. 


Hadir dalam kegiatan ini Prof. Dr. Slamet Riyadi, M.Si., Ak., CA., CTA. selaku Ketua LPPM Untag Surabaya dan Drs. M. Ecep Sudrajat, M.M. selaku Kepala Sekolah (SMATAG) Surabaya.


Para Siswa mendapatkan dua materi sebagai penguatan wawasan global sekaligus pembentukan karakter generasi muda pencinta perdamaian.


Ketua Prodi Sastra Jepang Untag Surabaya, Umul Khasanah, S.Pd., M.Litt., membawakan materi bertajuk Penerjemahan untuk Perdamaian. Ia menegaskan bahwa kemampuan menguasai lebih dari satu bahasa merupakan karunia yang patut dimanfaatkan untuk tujuan kebaikan.


“Sayang sekali jika manusia hanya bisa berbahasa dengan satu bahasa saja, karena Tuhan sudah menciptakan manusia dengan karunia yang bisa berbahasa lebih dari satu bahasa,” ujarnya (3/3).


Menurutnya, penerjemah memiliki posisi strategis dalam menyebarkan pesan damai melalui materi yang dipilih.


“Intinya sebagai seorang penerjemah, kita dapat selalu memilih materi yang akan membawa perdamaian, contohnya kitab suci yang isinya banyak sekali anjuran-anjuran perdamaian, dan kita juga bisa bertemu banyak orang yang mempunyai visi dan misi perdamaian,” tegas Umul Khasanah (3/3).




Materi berikutnya disampaikan Prof. Loch Leaksmy dari Royal University of Phnom Penh dengan judul Pembentukan Karakter Generasi Muda untuk Perdamaian Dunia melalui Lintas Budaya. Ia menekankan pentingnya menjaga semangat di tengah kesulitan serta mengingatkan dampak buruk perang bagi kemanusiaan.


“Sebagai generasi muda yang bisa melanjutkan untuk menjaga perdamaian dan jangan sampai terjadi perang. Karena generasi muda adalah agen untuk melanjutkan perdamaian dunia,” jelasnya.


Ia juga memaparkan bahwa banyak kematian terjadi bukan hanya karena penyakit, melainkan akibat kekurangan makanan.


“Yang paling utama adalah harus saling menjaga agar makanan dan kesehatan tetap terjaga. Kalau sudah ada perang di dunia, semua ini akan rusak dan jika yang menjaga perdamaian tidak ada, semua akan sia-sia,” tutup Prof. Loch Leaksmy (3/3).


Melalui forum tersebut, siswa SMATAG Surabaya meneguhkan pemahaman bahwa penguasaan bahasa dan wawasan lintas budaya bukan sekadar capaian akademik, melainkan bekal karakter untuk merawat perdamaian dan menjaga keberlangsungan kehidupan global, mulai dari aspek kemanusiaan hingga ketahanan pangan dan kesehatan. (Febe)


https://untag-sby.ac.id
https://www.untag-sby.ac.id