Tak Harus Punya Jabatan Perempuan Tetap Bisa Berdaya

  • 21 April 2026
  • VaniaS
  • 52

Peringatan Hari Kartini tidak seharusnya hanya menjadi momen seremonial semata. Lebih dari itu, peringatan ini perlu dimaknai sebagai refleksi tentang bagaimana seharusnya perempuan berkiprah dalam kehidupan.


Perempuan masa lalu, masa kini, dan masa depan memiliki perannya masing-masing. Perempuan dahulu berjuang membuka jalan, perempuan saat ini melanjutkan perjuangan dengan tantangan yang lebih kompleks, dan perempuan di masa depan diharapkan mampu menjadi sosok yang adaptif serta berdaya.


Menjadi perempuan di Indonesia berarti mampu memahami dan membawa diri di setiap ruang yang dihadapi. Setidaknya, perempuan harus mengetahui posisinya dan mampu menempatkan diri dengan baik di mana pun berada.


Personal Power sebagai Kekuatan Perempuan


Berdasarkan latar belakang keilmuan manajemen sumber daya manusia, perempuan perlu memiliki personal power. Seseorang tidak harus memiliki jabatan untuk dapat memengaruhi orang lain. Dengan karakter yang baik, integritas yang kuat, serta kemampuan komunikasi yang baik, perempuan mampu menggerakkan dan memberikan pengaruh di sekitarnya.


Perempuan tidak harus menunggu memiliki formal power atau kewenangan jabatan untuk bisa berperan. Namun, ketika keduanya dimiliki, yaitu formal power dan personal power yang terdiri dari integritas, karakter, dan kemampuan komunikasi, maka peran tersebut akan menjadi lebih lengkap. Hal ini penting untuk terus direfleksikan bersama.


Pertanyaan kemudian muncul, apakah menjadi perempuan yang cantik dan pintar sudah cukup? Jawabannya tentu tidak.


Kecantikan dan kecerdasan bukanlah fondasi utama. Yang jauh lebih penting adalah konsistensi dalam menjaga karakter dan integritas. Nilai inilah yang menentukan bagaimana perempuan bertahan, berkembang, dan dipercaya dalam jangka panjang.


Pentingnya Continuous Improvement


Perempuan harus terus melakukan continuous improvement. Konsistensi diri sejatinya hanya dapat dinilai oleh diri sendiri. Oleh karena itu, tidak boleh cepat merasa puas.


Pengalaman di berbagai bidang, mulai dari konsultan politik hingga akademisi, menunjukkan bahwa pencapaian tidak bisa berhenti hanya pada satu titik. Tidak ada istilah “sudah selesai”. Proses belajar harus terus berjalan.


Di mana pun berada, perempuan tidak boleh berhenti belajar. Prinsip learning by doing menjadi penting untuk terus berkembang. Tidak boleh ada rasa minder, dan tidak boleh cepat merasa puas.


Ketangguhan dalam Proses Bertumbuh


Perempuan harus mampu menghadapi berbagai kendala. Setiap perjuangan tidak mungkin berjalan mulus tanpa hambatan. Oleh karena itu, penting untuk selalu memiliki pola pikir positif.


Sebagai pemikir sekaligus pejuang, perempuan harus mampu membuktikan kebenaran melalui proses yang tidak instan. Untuk membuktikan sesuatu, dibutuhkan waktu dan kesabaran.


Tidak semua hal perlu ditanggapi, terutama jika tidak membawa dampak bagi pengembangan diri. Fokus perlu diarahkan pada hal-hal yang benar-benar memberikan nilai. Waktu, tenaga, dan setiap kesempatan harus dimanfaatkan sebaik-baiknya, sekecil apa pun itu. Tidak ada hal yang layak disia-siakan.


Pada akhirnya, perempuan harus bangga terhadap dirinya sendiri. Kepercayaan diri menjadi kunci untuk menunjukkan jati diri. Perempuan perlu berani mengatakan, “this is me” dan berani menunjukkannya.


*) Dr. Sumiati, M.M., Wakil Rektor III Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya


https://untag-sby.ac.id
https://www.untag-sby.ac.id

Vania

Reporter

\