Waspada Voice Phishing, Modus Penipuan AI Lewat Telepon

  • 11 Februari 2026
  • 88

Perkembangan teknologi Artificial Intelligence (AI) tidak hanya membawa kemudahan dalam kehidupan sehari-hari, tetapi juga melahirkan modus kejahatan siber baru. Salah satunya adalah voice phishing (vishing), yakni penipuan melalui panggilan suara yang kini semakin canggih karena memanfaatkan teknologi peniruan suara atau voice spoofing. 


Dalam praktiknya, vishing memanfaatkan teknik rekayasa sosial untuk memanipulasi emosi korban. Pelaku kerap menyamar sebagai pihak perbankan, instansi pemerintah, perusahaan jasa, hingga anggota keluarga. Dengan suara yang terdengar meyakinkan, korban sering kali tidak menyadari bahwa mereka sedang menjadi target penipuan.


Melansir dari Google Cloud, pelaku kejahatan siber mulai melirik pemanfaatan model bahasa besar (Large Language Models/LLMs) untuk mendukung berbagai aktivitas berbahaya, termasuk pengembangan malware dan skema penipuan. 


Meski demikian, Google menegaskan bahwa adopsi AI generatif oleh penipu saat ini masih berada pada tahap terbatas dan belum sepenuhnya masif. Temuan awal ini mengulas kemunculan taktik, teknik, dan prosedur (TTP) berbasis AI yang baru, sekaligus memetakan tren ancaman siber yang tengah berkembang.


Seiring meningkatnya modus penipuan berbasis vishing, masyarakat perlu mengenali sejumlah ciri khas agar tidak mudah terjebak. Berikut beberapa tanda yang patut diwaspadai:


1. Nada bicara mendesak dan menekan

Pelaku biasanya menciptakan situasi darurat, seperti ancaman pemblokiran akun, transaksi mencurigakan, atau kondisi darurat yang menimpa anggota keluarga. Tekanan waktu digunakan agar korban tidak sempat berpikir jernih.


2. Meminta data pribadi atau informasi rahasia

Pelaku vishing sering meminta kode OTP, PIN ATM, nomor kartu debit atau kredit, hingga data identitas. Perlu diketahui, lembaga resmi tidak pernah meminta informasi sensitif melalui telepon.


3. Menggunakan nomor tidak dikenal atau menyerupai nomor resmi

Panggilan sering berasal dari nomor asing, tersembunyi, atau dimodifikasi agar terlihat seperti nomor institusi resmi. Saat diminta verifikasi, pelaku cenderung menghindar atau menolak.


4. Melarang korban menutup panggilan atau menghubungi pihak lain

Salah satu tanda kuat vishing adalah larangan untuk memutus sambungan telepon dengan alasan “keamanan” atau “prosedur khusus”, sehingga korban tetap berada di bawah kendali pelaku.


5. Suara terdengar familiar namun respons tidak alami

Pada vishing berbasis AI, suara bisa menyerupai suara orang terdekat. Namun, biasanya terdapat kejanggalan, seperti intonasi datar, jeda tidak wajar, atau jawaban yang tidak relevan ketika diajak berbicara di luar skenario.


6. Instruksi untuk segera melakukan transfer atau tindakan tertentu

Pelaku akan mengarahkan korban untuk mentransfer uang, mengklik tautan, atau mengikuti instruksi tertentu secara cepat tanpa proses verifikasi resmi.


Seiring meningkatnya kasus vishing yang memanfaatkan kecanggihan AI, literasi keamanan digital menjadi kunci utama. Masyarakat diharapkan lebih waspada, kritis, dan selalu melakukan verifikasi sebelum mengambil keputusan, terutama yang berkaitan dengan uang dan data pribadi. (Dini)


https://untag-sby.ac.id
https://www.untag-sby.ac.id

\