Era Web4 disebut sebagai fase lanjutan evolusi internet yang memperluas peran kecerdasan buatan (AI). Jika Web1 berfokus pada membaca informasi, Web2 memungkinkan interaksi, dan Web3 menghadirkan kepemilikan aset digital berbasis blockchain, Web4 memperkenalkan kemampuan sistem digital untuk bertindak secara mandiri.

Pada tahap ini, AI tidak lagi sekadar chatbot atau asisten virtual. AI Agents dapat menjalankan perintah kompleks, melakukan transaksi, hingga mengelola aset digital melalui integrasi dengan dompet kripto. Konsep ini melahirkan gagasan Autonomous Economic Agents (AEA), yakni entitas digital yang mampu beroperasi dalam ekosistem ekonomi daring.

Secara teoritis, AEA dapat membayar layanan komputasi, menyewa server, membeli data, hingga mengelola operasionalnya sendiri. Jika menghasilkan keuntungan, sistem dapat mengalokasikan dana untuk pengembangan model atau memperluas jaringan. Sebaliknya, jika tidak mampu menutup biaya operasional, agen tersebut berhenti berfungsi mirip mekanisme pasar pada perusahaan konvensional.

Perkembangan ini memperluas interaksi internet dari human-to-human menjadi AI-to-AI. Mesin dapat saling bertransaksi dan bernegosiasi dalam sistem berbasis blockchain yang terdesentralisasi. Namun, konsep Web4 masih berada pada tahap pengembangan dan belum sepenuhnya terimplementasi secara luas di tingkat global.

Meski demikian, para pengamat menilai peran manusia tetap krusial sebagai perancang sistem, pembuat regulasi, dan penjaga etika teknologi. Integrasi AI dan blockchain membuka peluang efisiensi dan inovasi, sekaligus menuntut literasi digital, pengawasan keamanan data, serta kebijakan adaptif agar transformasi ini tetap berpihak pada kepentingan publik. (Ivan)