Generasi Z menunjukkan pergeseran cara pandang terhadap karier dan kesuksesan di dunia kerja. Sejumlah survei ketenagakerjaan global mencatat sebagian besar Gen-Z tidak lagi menempatkan jabatan manajerial sebagai tujuan utama, melainkan lebih memilih fleksibilitas, kesehatan mental, dan makna pekerjaan.

Jika pada generasi sebelumnya posisi manajer identik dengan prestise dan stabilitas, bagi Gen-Z jabatan tersebut kerap dipandang sebagai sumber tekanan tambahan. Posisi middle management dinilai berada dalam “jebakan sandwich”, yakni harus memenuhi target pimpinan sekaligus mengelola dinamika tim. Beban kerja meningkat, sementara kompensasi tidak selalu sebanding.

Selain itu, jam kerja panjang dan tuntutan respons cepat memperkuat kekhawatiran terhadap risiko burnout. Gen-Z tumbuh dalam lingkungan yang lebih terbuka membahas isu kesehatan mental dan work-life balance. Karena itu, mereka cenderung lebih selektif dalam menerima promosi yang berpotensi mengganggu keseimbangan hidup.

Alih-alih mengejar titel, banyak Gen-Z berorientasi pada pengembangan keterampilan dan dampak kerja. Jalur karier sebagai individual contributor, profesional independen, kreator digital, hingga wirausaha dinilai lebih memberi kontrol atas waktu dan energi. Kesuksesan dipahami secara personal, bukan semata berdasarkan struktur hierarki.

Fenomena ini menjadi tantangan sekaligus peluang bagi perusahaan. Organisasi perlu menyediakan jalur karier non-manajerial yang jelas, sistem kerja kolaboratif, serta budaya yang menghargai kontribusi tanpa harus dikaitkan dengan jabatan formal. Pergeseran ini menandai transformasi budaya kerja yang semakin adaptif terhadap generasi baru. (Ivan)