Di tengah dinamika kehidupan siswa yang semakin lekat dengan dunia digital, peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW di SMP 17 Agustus 1945 (SMPTAG) Surabaya dimanfaatkan sebagai momentum untuk menanamkan nilai spiritualitas dan penguatan karakter.
Guru Bimbingan dan Konseling SMP 17 Agustus 1945 Surabaya yang juga aktif dalam pendampingan dan kegiatan keagamaan sekolah, Zulifa Sifaur Rohmah, S.Pd., menyampaikan bahwa Isra Mi’raj merupakan peristiwa agung dalam sejarah Islam yang sarat dengan nilai pendidikan bagi peserta didik.
“Isra Mi’raj merupakan peristiwa agung dalam sejarah Islam yang memperlihatkan kebesaran Allah SWT sekaligus keteguhan iman Nabi Muhammad SAW. Peristiwa ini bukan sekadar kisah mukjizat yang diperingati setiap tahun, melainkan sumber pembelajaran yang sangat relevan dalam pembinaan karakter dan motivasi peserta didik, khususnya di jenjang SMP yang berada pada fase pencarian jati diri,” ujarnya (15/1)
Menurut Zulifa, peringatan Isra Mi’raj menjadi momentum spiritual yang penting untuk meneguhkan keimanan siswa di tengah kesibukan dan tantangan era digital. Ia menilai bahwa kedekatan kepada Allah SWT perlu terus dijaga meskipun kehidupan modern dipenuhi berbagai distraksi.
“Peringatan Isra Mi’raj mengajarkan bahwa kedekatan kepada Allah SWT harus senantiasa dijaga. Dari sini, siswa diajak memahami bahwa iman, akidah, dan ibadah merupakan fondasi utama dalam membangun pribadi Muslim yang kuat, berkarakter, dan bertanggung jawab,” katanya
Ia menjelaskan bahwa makna utama Isra Mi’raj terletak pada perintah salat lima waktu. Dalam konteks pembinaan siswa, salat tidak hanya dipahami sebagai kewajiban ritual, tetapi juga memiliki peran penting dalam pembentukan karakter.
“Makna utama Isra Mi’raj terletak pada perintah salat lima waktu. Salat tidak hanya dipahami sebagai kewajiban ritual, tetapi juga menjadi sarana pembentukan disiplin, ketenangan batin, dan pengendalian diri,” jelas Zulifa
Dari sudut pandang bimbingan dan konseling yang terintegrasi dengan pembinaan keagamaan, ia menambahkan bahwa kebiasaan salat yang konsisten membantu siswa membangun rutinitas positif, melatih tanggung jawab, serta menumbuhkan kesadaran bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi, baik di dunia maupun di akhirat.
Zulifa juga menyoroti nilai keteguhan, kesabaran, dan ketaatan yang terkandung dalam peristiwa Isra Mi’raj. Keteladanan Rasulullah SAW dalam menerima perintah salat langsung dari Allah SWT dinilai relevan untuk ditanamkan kepada siswa sebagai bekal menghadapi berbagai tantangan.
“Nilai-nilai ini sangat relevan untuk ditanamkan kepada siswa agar mampu menghadapi tekanan akademik, pergaulan, maupun tantangan psikologis dengan sikap yang matang dan bertanggung jawab,” imbuhnya
Dalam peringatan Isra Mi’raj di SMP 17 Agustus 1945 Surabaya, nilai-nilai tersebut diwujudkan melalui berbagai kegiatan keagamaan. Zulifa menyebutkan adanya pembiasaan ibadah, seperti salat duha, membaca Al-Qur’an, serta mendengarkan ceramah keagamaan.
“Kegiatan-kegiatan tersebut tidak hanya memperkuat iman, tetapi juga melatih ketenangan jiwa dan meningkatkan fokus belajar siswa. Dari sudut pandang pendampingan siswa, ketenangan batin memiliki pengaruh besar terhadap kesehatan mental dan perilaku siswa di lingkungan sekolah,” tuturnya.
Selain pembiasaan ibadah, sekolah juga menggelar berbagai lomba keagamaan, seperti adzan, pidato Islami, dan kaligrafi. Menurut Zulifa, kegiatan tersebut menjadi bagian dari pengembangan potensi diri siswa.
“Berbagai lomba keagamaan melatih keberanian, kepercayaan diri, serta sportivitas siswa. Pembinaan karakter tidak hanya efektif melalui nasihat, tetapi juga melalui pengalaman langsung yang mampu menumbuhkan motivasi intrinsik,” kata Zulifa
Lebih lanjut, Zulifa menekankan relevansi peringatan Isra Mi’raj di tengah pesatnya kemajuan teknologi dan derasnya arus informasi. Ia menilai siswa rentan terpapar hal-hal yang berpotensi menjauhkan mereka dari nilai-nilai spiritual.
“Isra Mi’raj menjadi pengingat bahwa seorang Muslim perlu menyikapi perkembangan zaman secara bijak. Iman dan ibadah berperan sebagai penyeimbang agar siswa tidak terjebak pada gaya hidup instan, sikap lalai, dan kehilangan arah,” jelasnya
Penanaman nilai keislaman ditekankan bukan sebatas pada identitas, tetapi harus tercermin dalam sikap dan perilaku sehari-hari. Istiqomah dalam menjalankan kewajiban, termasuk salat lima waktu, merupakan wujud nyata komitmen iman. Isra Mi’raj juga mengajarkan bahwa perjalanan hidup manusia tidak berhenti di dunia, melainkan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT kelak.
Melalui peringatan Isra Mi’raj 1447 H ini, siswa diharapkan mampu mewujudkan iman dalam perilaku nyata, tumbuh menjadi pribadi yang taat, disiplin, sabar, serta memiliki kepedulian sosial. Keteladanan Rasulullah SAW diharapkan menjadi inspirasi bagi siswa dalam menjalani peran sebagai pelajar, sehingga nilai pendidikan karakter dapat tumbuh dan membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga kokoh secara spiritual dan mental.
*) Zulifa Sifaur Rohmah, S.Pd. Guru Bimbingan dan Konseling SMP 17 Agustus 1945 (SMPTAG) Surabaya