Di tengah padatnya aktivitas sekolah, guru dan siswa SMA 17 Agustus 1945 (SMATAG) Surabaya memilih berhenti sejenak. Melalui Retret POH, mereka memasuki ruang hening untuk meneguhkan iman dan menemukan kembali makna panggilan sebagai pendidik dan pelajar.
Kegiatan retret ini dilaksanakan di Sarang, Kediri, dan diikuti oleh guru serta siswa SMATAG yang beragama Kristen sebagai bagian dari pembinaan rohani sekolah. Dalam suasana alam yang tenang dan jauh dari hiruk pikuk kota, para peserta menjalani rangkaian doa, permenungan, dan pendalaman iman yang berlangsung pada 16–18 Januari 2026.
Guru Agama Kristen Katolik SMATAG Surabaya, Maghdalena Dalima, S.Ag., menjelaskan bahwa Retret POH tidak sekadar menjadi agenda tahunan, melainkan sarana pembaruan batin yang mendalam.
“Tujuan utama Retret POH ini adalah membantu para guru untuk berhenti sejenak dari rutinitas, menata ulang hati dan pikiran, serta memperdalam relasi dengan Tuhan. Retret ini juga menjadi sarana untuk memperkuat panggilan sebagai pendidik Katolik agar mampu menjalankan tugas dengan semangat pelayanan, kasih, dan keteladanan,” ungkap Maghdalena. (19/1)
Menurutnya, suasana Sarang yang hening, sejuk, dan jauh dari keramaian memberikan dampak besar bagi proses refleksi. Ia merasakan ketenangan yang jarang ditemui di tengah kesibukan mengajar sehari-hari.
“Sangat mendalam dan menenangkan. Lingkungan yang sunyi membantu saya lebih fokus dalam doa dan refleksi, serta memberi ruang untuk benar-benar mendengarkan suara Tuhan dan mengenal diri saya lebih dalam, baik sebagai pribadi maupun sebagai pendidik,” tuturnya.
Selama retret berlangsung, para peserta mengikuti berbagai sesi pendalaman rohani. Salah satu sesi yang paling berkesan bagi Maghdalena adalah refleksi tentang jawaban hati dalam menerima rahmat Tuhan. Melalui doa dan permenungan, ia diajak untuk melihat kembali perjalanan hidup serta pelayanannya sebagai guru.
“Saya diajak merefleksikan tantangan, luka, dan rahmat yang selama ini sering terlewatkan di tengah kesibukan, padahal semuanya membentuk proses pelayanan saya,” katanya.
Retret ini juga menjadi ruang permenungan tentang makna profesi guru. Bagi Maghdalena, pengalaman tersebut menegaskan kembali bahwa mengajar bukan sekadar rutinitas pekerjaan, melainkan sebuah panggilan untuk melayani dan membentuk karakter peserta didik.
“Menjadi guru bukan hanya soal menyampaikan materi, tetapi sebuah panggilan untuk melayani dan membentuk karakter peserta didik. Kehadiran saya di kelas adalah perpanjangan tangan Tuhan untuk menanamkan nilai kasih, kesabaran, dan kejujuran,” jelasnya.
Pengalaman rohani yang paling menyentuh ia rasakan saat doa pribadi dan adorasi. Dalam keheningan tersebut, Maghdalena merasakan ketenangan sekaligus penguatan batin yang mendalam.
“Saya merasakan seolah Tuhan meneguhkan kembali langkah saya sebagai pendidik,” ujarnya.
Selain memperdalam relasi personal dengan Tuhan, Retret POH juga mempererat kebersamaan antara guru dan siswa. Melalui doa bersama, sesi berbagi, dan kegiatan sederhana, tercipta suasana hangat dan penuh kekeluargaan yang dinilai penting dalam membangun relasi yang sehat di lingkungan sekolah.
Sepulang dari retret, Maghdalena merasakan perubahan sikap dan pembaruan semangat dalam menjalani tugas mengajar.
“Saya merasa lebih tenang, lebih sabar, dan memiliki motivasi baru untuk mengajar dengan hati,” imbuhnya
Nilai kesabaran, ketulusan, empati, dan kasih menjadi sikap yang ingin ia terapkan dalam keseharian, tidak hanya dalam proses pembelajaran, tetapi juga dalam pendampingan pribadi siswa.
Di tengah tuntutan administrasi dan tanggung jawab pendidikan yang semakin besar, Maghdalena menilai retret seperti POH memiliki peran penting sebagai ruang pemulihan rohani bagi para pendidik agar dapat kembali menemukan makna dan arah dalam pelayanan pendidikan.
Ia pun menyampaikan harapannya agar SMATAG Surabaya terus bertumbuh sebagai komunitas pendidikan yang berlandaskan iman, kasih, dan kebersamaan.
“Saya berharap SMATAG Surabaya semakin menjadi komunitas pendidikan yang berlandaskan iman, kasih, dan kebersamaan. Para peserta didik juga dapat merasakan kehadiran guru-guru yang lebih penuh perhatian dan menjadi teladan, sehingga mereka bertumbuh tidak hanya secara akademis, tetapi juga dalam karakter dan iman,” pungkasnya.
Lebih dari sekadar kegiatan rohani, Retret POH di Sarang Kediri menjadi bekal batin bagi guru dan siswa untuk membangun relasi yang lebih hangat, pengajaran yang lebih berempati, serta lingkungan sekolah yang menumbuhkan iman, karakter, dan kepedulian. Dari ruang hening di Sarang, semangat itu diharapkan terus hidup dan mengalir dalam keseharian SMATAG Surabaya. (Boby)