Masyarakat diimbau meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi situasi darurat melalui kampanye edukatif “72 Jam Nyaman Tanpa Listrik & Air”, yang menekankan pentingnya kemandirian warga pada tiga hari pertama pascakejadian sebelum bantuan negara menjangkau seluruh wilayah terdampak.

Kampanye ini menegaskan bahwa pada krisis berskala besar, seperti bencana alam, gangguan infrastruktur, atau keadaan darurat nasional, proses distribusi logistik dan evakuasi kerap membutuhkan waktu minimal 72 jam. Dalam rentang waktu tersebut, warga diharapkan tidak sepenuhnya bergantung pada bantuan pemerintah, melainkan mampu bertahan secara mandiri di lingkungan rumah masing-masing.

Untuk mendukung fase mandiri tersebut, masyarakat dianjurkan menyiapkan kebutuhan dasar sejak dini. Air minum minimal tiga liter per orang per hari, makanan siap santap tanpa perlu dimasak, serta sumber energi darurat seperti powerbank, baterai cadangan, dan senter menjadi perlengkapan utama dalam kesiapsiagaan keluarga.

Selain kebutuhan fisik, kesiapan medis dan informasi juga dinilai krusial. Kotak pertolongan pertama (P3K) diperlukan untuk penanganan awal, sementara uang tunai pecahan kecil disarankan sebagai antisipasi terganggunya sistem perbankan dan pembayaran digital. Masyarakat juga diingatkan untuk menyimpan dokumen penting serta mengakses informasi hanya dari kanal resmi guna menghindari hoaks dan kepanikan.

Kampanye ini turut dikaitkan dengan konsep Sistem Pertahanan dan Keamanan Rakyat Semesta (Sishankamrata) sebagaimana ditekankan oleh Lemhannas RI, bahwa ketahanan negara tidak hanya bertumpu pada kekuatan militer, tetapi juga pada kesiapan warga sipil. Kemandirian, solidaritas, dan ketangguhan masyarakat dalam situasi krisis merupakan bentuk nyata bela negara dalam kehidupan sehari-hari. (Ivan)