Abu Dasar Batu Bara Antarkan Riset Rektor Untag Surabaya untuk Lingkungan dan Material Masa Depan

  • 04 Februari 2026
  • VaniaS
  • 1891

Harjo Seputro, S.T., M.T., resmi menyandang gelar Doktor Ilmu Teknik Mesin pada 2 Februari 2026 setelah menuntaskan sidang doktoralnya di Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret (UNS). Ia lulus dengan IPK 3,81 dan predikat Sangat Memuaskan. Capaian tersebut disampaikan dalam yudisium yang menandai berakhirnya proses studinya di jenjang doktoral.


Bagi Harjo, capaian akademik yang diraihnya di Kota Surakarta, Solo, ini bukan sekadar penanda kelulusan formal, melainkan awal dari tanggung jawab keilmuan yang lebih besar. Gelar doktor yang diraihnya dimaknai sebagai pintu untuk terus memperdalam riset dan memperluas kontribusi di bidang teknik mesin.


“Arti doktor buat saya ini awal dari proses untuk mendalami lebih jauh bidang ilmu saya. Akan terus kami kembangkan bersama dengan mahasiswa dan teman-teman sejawat di Untag Surabaya,” tuturnya (2/2)


Penelitian yang mengantarkannya meraih gelar doktor berangkat dari kepeduliannya pada persoalan lingkungan sekaligus kebutuhan dunia teknik akan material alternatif. Harjo meneliti stabilitas/instabilitas perubahan dimensi material komposit dengan penguat abu dasar batu bara. Dalam riset tersebut, ia mengorelasikan dua parameter utama, yakni laju pemanasan dengan perubahan atau transformasi material.


“Penelitian saya itu bagaimana mengkorelasikan antara dua parameter utama yaitu terkait dengan laju pemanasan dengan perubahan atau transformasi. Kontribusi yang pertama adalah memberikan basis ilmiah kalau kita mau meningkatkan kekuatan atau sifat mekanik komposit material, khususnya abu dasar batu bara. Yang kedua adalah kontribusi limbah, yang selama ini dinyatakan sebagai limbah beracun, bisa kita proses menjadi sebuah material yang bermanfaat sebagai pengganti material logam,” jelasnya


Abu dasar batu bara merupakan limbah hasil pembakaran batu bara. Dalam proses pembakaran terdapat dua jenis abu, yakni fly ash yang terbang di udara dan abu dasar batu bara (bottom ash) yang mengendap.


“Di Indonesia, deposit abu dasar batu bara pada tahun 2023 mencapai sekitar 1,1 juta ton per tahun, dihasilkan dari industri yang masih menggunakan bahan bakar batu bara. Karena statusnya sebagai limbah, pemanfaatannya masih sangat terbatas,” jelas Rektor Untag Surabaya tersebut


Di lapangan, persoalan limbah ini nyata dirasakan. Harjo mencontohkan di daerah Mojokerto terdapat pabrik kertas yang menggunakan batu bara sebagai bahan bakar. Limbah abu dasar batu bara dari industri tersebut sulit dibuang dan berpotensi mencemari lingkungan sekitar, termasuk sungai dan sumur warga.


“Kalau saya mau mengambil abu dasar batu bara di sana 1 kwintal, itu mereka akan senang. Karena susah membuangnya,” ungkapnya.


Meski berbahaya jika dibiarkan, abu dasar batu bara dapat diolah menjadi material yang aman. Partikelnya yang kecil membuat abu ini mudah terbang di udara dan berisiko jika terhirup oleh manusia. Namun, ketika diproses menjadi metamatrix composite (MMC), sifat berbahayanya hilang karena telah berubah menjadi material yang bermanfaat. 


Harjo mencontohkan pemanfaatan fly ash yang ditangkap dan digunakan sebagai bahan dasar semen. Ketika semen dimanfaatkan untuk pengecoran, material tersebut tidak lagi berbahaya. Prinsip serupa diterapkan pada pengolahan abu dasar batu bara menjadi metamatrix composite sebagai substitusi material logam.


Pemilihan abu dasar batu bara sebagai bahan penelitian dilatarbelakangi dua alasan utama. Pertama, pemanfaatan limbah berarti membantu mengatasi persoalan lingkungan. Kedua, dalam dunia teknik mesin, material yang ringan namun memiliki sifat mekanik setara logam sangat dibutuhkan. Salah satu keunggulan MMC atau  metamatrix composite dengan penambahan abu dasar batu bara adalah bobotnya yang ringan. Material ini berpotensi digunakan sebagai komponen transportasi sehingga dapat menghemat bahan bakar, sekaligus menjadi alternatif pengganti logam.


Perjalanan riset Harjo bermula dari peristiwa yang terkesan sederhana. Pada tahun 2003, ia bersama sang istri menghadiri sebuah acara pernikahan di wilayah Mojosari, Mojokerto, pada musim kemarau. Di sepanjang jalan, debu beterbangan tertiup angin. Pemandangan serupa kembali ia temui saat perjalanan pulang. Rasa penasaran membawanya bertanya kepada pemilik warung di sekitar lokasi. Ia mendapat keterangan bahwa debu tersebut berasal dari tumpukan abu. Setelah melihat langsung, Harjo mendapati memang terdapat banyak tumpukan abu di kawasan tersebut.


Pengalaman itu menggugah batinnya. Ia meyakini tidak ada ciptaan Tuhan yang sia-sia dan tanpa manfaat. Sejak tahun 2003, Harjo mulai meneliti abu dasar batu bara. Perjalanan panjang risetnya kemudian membuahkan paten atas pemanfaatan abu dasar batu bara yang diperolehnya pada tahun 2018.


Terkait penerapan hasil riset di dunia industri, Harjo menilai ke depan masih dibutuhkan riset lanjutan yang lebih mendalam. Selama ini, pengujian masih terbatas pada beban statis. Karena itu, perlu penelitian tambahan untuk menguji performa material pada lingkungan ekstrem dan beban dinamis.


Atas capaian akademik tersebut, Ketua Yayasan Perguruan 17 Agustus (YPTA) Surabaya, J. Subekti, S.H., M.M., menyampaikan ucapan selamat kepada Dr. Harjo Seputro, S.T., M.T. Kegiatan tersebut turut dihadiri Pembina YPTA Surabaya Bambang DH, Pengawas YPTA Surabaya, Ir. Bantot Sutriono, M.Sc, Bendahara YPTA Surabaya, Dr. Ontot Murwato S, M.M., Ak., CMA., CA., CPA, dan Sekretaris YPTA Surabaya, Dr. IGN Anom Maruta, M.M.


“Mewakili pengurus YPTA Surabaya, saya menyampaikan selamat pada Dr. Harjo Seputro. Mudah-mudahan Dr. Harjo ini dapat menjadi pecut, menjadi cambuk bagi kemajuan Untag Surabaya supaya dua tahun, tiga tahun mendatang sudah benar-benar go internasional. Saya mengucapkan selamat, atas nama Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya, SMATAG Surabaya, SMPTAG Surabaya,” tutup J. Subekti.





https://untag-sby.ac.id
https://www.untag-sby.ac.id

Vania

Reporter

\