Anak Hebat Lahir dari Rasa Percaya dan Pelukan Nyata

  • 24 Juli 2025
  • 1394

Setiap 23 Juli, kita memperingati Hari Anak Nasional, sebuah momen penting untuk mengingat bahwa anak-anak bukan sekedar generasi penerus bangsa, tetapi jiwa-jiwa muda yang sedang mencari arah, tempat berpijak, dan makna keberadaan mereka.


Sebagai Guru Bimbingan Konseling (BK) di SMP 17 Agustus 1945 (SMPTAG) Surabaya, saya menyaksikan langsung dinamika kehidupan remaja di era serba digital. Gadget menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian mereka, baik sebagai sarana belajar maupun hiburan. Namun, di balik kemudahan itu, muncul tantangan baru yang tak bisa diabaikan. Menurunnya minat literasi, ketergantungan pada teknologi, dan kurangnya perhatian emosional dari lingkungan sekitar.


Anak-anak saat ini lebih cepat mengakses informasi, tetapi sering kali kurang peka terhadap komunikasi yang bersifat mendalam. Misalnya, ketika ada pengumuman penting secara tertulis, tidak semua membacanya secara saksama. Sebaliknya, mereka lebih responsif terhadap komunikasi langsung.  Ini menunjukkan bahwa kebiasaan membaca dan fokus pada pesan tertulis mulai tergeser oleh interaksi instan dan visual.


Tantangan Terbesar: Membangun Trust Anak pada Lingkungan Sekitar


Tugas guru BK bukan hanya memberi solusi ketika masalah muncul, tetapi membangun kepercayaan. Anak tidak akan terbuka jika tidak merasa aman. Tantangan terbesar hari ini adalah menumbuhkan rasa percaya anak kepada gurunya. Ketika trust itu tumbuh, barulah arahan bisa masuk, dan nilai-nilai bisa ditanamkan.


Namun, guru tidak bisa berjalan sendiri. Pendidikan karakter anak bukan hanya tanggung jawab sekolah. Ada tiga pilar utama yang harus berjalan bersama, lingkungan, keluarga, dan guru. Anak bisa jadi hebat jika ketiga unsur ini bekerja sinergis. Potensi anak itu ibarat kertas putih. Ia bisa menjadi lukisan indah atau buram tergantung siapa yang menggenggam kuasnya.


Anak Hebat Ada di Sekitar Kita, Jika Kita Mau Melihatnya


Menurut saya, semua anak itu hebat. Hebat bukan hanya dalam akademik, tetapi juga dalam hal sikap, semangat, dan karakter. Tugas kita sebagai orang dewasa adalah melihat potensi itu dan membantunya berkembang, bukan menuntut hasil sempurna sejak awal.


Di SMPTAG Surabaya, saya selalu menanamkan nilai persaudaraan kepada siswa-siswi. Kelas bukan hanya tempat belajar, tapi rumah kedua. Semua adalah saudara. Ketika ada teman sakit, kita bantu. Ketika ada kesalahan, kita ajarkan untuk berani meminta maaf. Nilai-nilai ini yang akan menjadi pondasi menghadapi Indonesia Emas 2045, bukan hanya anak cerdas, tapi anak yang berempati, tangguh, dan mau berbagi.


Anak Tidak Hanya Butuh Gadget, Tapi Juga Genggaman Tangan


Orang tua seringkali menunjukkan kasih sayang melalui fasilitas terbaik misalnya gadget terbaru, sekolah favorit, les tambahan. Tapi, apakah anak sudah benar-benar merasa dicintai? Beberapa anak bercerita bahwa mereka tak pernah dipeluk, tak pernah diajak bicara dari hati ke hati. Mereka haus perhatian emosional, bukan materi.


Perhatian sederhana seperti bertanya bagaimana harimu, memeluk saat anak terlihat lelah, atau sekadar mendengarkan cerita mereka bisa menjadi vitamin batin yang tak tergantikan. Hari Anak Nasional seharusnya menjadi pengingat bagi kita semua bahwa perhatian, kehadiran, dan kasih sayang jauh lebih bernilai dari semua pemberian fisik.


Rayakan Hari Anak Nasional dengan Lebih Sadar


Hari Anak Nasional bukan sekadar slogan atau perayaan tahunan. Ini adalah ajakan untuk kembali memeluk anak-anak kita, secara harfiah maupun maknawi. Tumbuh kembang anak adalah tanggung jawab bersama. Guru, orang tua, dan masyarakat harus menjadi satu suara: menciptakan ruang yang aman dan mendukung bagi setiap anak untuk menjadi dirinya yang terbaik.


Saya percaya, jika setiap anak diberi tempat yang nyaman untuk tumbuh, dari rumah, sekolah, hingga lingkungan, maka kita tak hanya melahirkan anak-anak hebat. Kita sedang membentuk generasi yang siap menghadapi masa depan dengan empati, keteguhan, dan harapan. Karena pada akhirnya, anak hebat lahir bukan hanya dari potensi, tapi juga dari lingkungan yang percaya dan merawatnya. (Boby)


*) Dewi Sartika, S.Psi – Guru Bimbingan Konseling SMP 17 Agustus 1945 (SMPTAG) Surabaya



https://untag-sby.ac.id
https://www.untag-sby.ac.id

\