Perdebatan mengenai porsi makan saat Ramadan kembali mencuat. Banyak orang bertanya-tanya, apakah sahur sebaiknya lebih banyak agar kuat menahan lapar seharian, atau justru buka puasa yang perlu porsi lebih besar karena tubuh membutuhkan asupan setelah berjam-jam berpuasa.
Melansir KabarJakarta.net, baik sahur maupun buka puasa sama-sama memiliki peran penting dalam menjaga energi dan kesehatan tubuh selama Ramadan. Fokus utama bukan pada besar kecilnya porsi, melainkan keseimbangan nutrisi yang dikonsumsi.
Sahur berfungsi sebagai “bekal energi” selama kurang lebih 12–14 jam berpuasa. Karena itu, makanan saat sahur dianjurkan mengandung karbohidrat kompleks, protein, serat, serta cukup cairan agar energi dilepaskan secara perlahan dan tubuh tidak cepat lemas.
Sementara itu, buka puasa menjadi momen untuk menggantikan energi yang hilang setelah seharian menahan lapar dan haus. Namun, makan berlebihan saat berbuka justru dapat menyebabkan gangguan pencernaan dan rasa tidak nyaman. Oleh karena itu, disarankan untuk berbuka secara bertahap, dimulai dari air putih dan makanan ringan seperti kurma, kemudian dilanjutkan dengan makanan utama secukupnya.
Para ahli gizi menekankan bahwa kunci utama menjaga stamina selama Ramadan bukanlah menentukan mana yang lebih besar porsinya, melainkan membagi kebutuhan kalori harian secara seimbang antara sahur dan buka puasa.
Dengan demikian, baik sahur maupun buka puasa sebaiknya diperlakukan sebagai waktu makan utama yang sama-sama penting, dengan porsi yang disesuaikan kebutuhan individu, aktivitas harian, serta kondisi kesehatan masing-masing.
Baik sahur maupun buka puasa sebaiknya diperlakukan sebagai waktu makan utama yang sama-sama penting, dengan porsi yang disesuaikan kebutuhan individu, aktivitas harian, serta kondisi kesehatan masing-masing. (Maulana)