Apakah Semua Orang Harus Jadi Konten Kreator?

  • 26 September 2025
  • 1075

Menjadi konten kreator kini menjadi tren di kalangan remaja dan mahasiswa. Kehadiran di TikTok, YouTube, atau Instagram dianggap penting untuk personal branding, hingga memunculkan pertanyaan: apakah semua orang harus menjadi kreator?




Survei Pew Research (2022) mencatat lebih dari separuh Gen Z menilai personal branding online penting bagi masa depan. Kondisi ini turut memicu fenomena Fear of Missing Out (FOMO) ketika seseorang merasa tertinggal jika tidak ikut berkonten.




Meski demikian, tidak semua kreator langsung sukses secara finansial. Riset Influencer Marketing Hub (2024) menemukan mayoritas kreator pemula hanya memperoleh pendapatan di bawah USD 100 per bulan. Hanya sebagian kecil yang benar-benar mampu menjadikan konten sebagai sumber penghasilan utama.




Selain soal pendapatan, menjadi kreator membutuhkan komitmen waktu dan tenaga. Produksi ide, proses editing, distribusi konten, hingga interaksi dengan audiens bisa menyita 15–20 jam per minggu, setara dengan pekerjaan paruh waktu bagi seorang mahasiswa.




Tidak sedikit kreator berhenti setelah beberapa bulan karena mengalami burnout atau hasil yang tidak sesuai harapan. Karena itu, kunci keberlanjutan terletak pada strategi: memilih niche yang jelas, konsistensi, manajemen waktu, serta kesesuaian dengan tujuan hidup pribadi. (Ivan)



https://untag-sby.ac.id
https://www.untag-sby.ac.id

\