Arsitektur bukan hanya soal desain bangunan, melainkan juga tanggung jawab sosial dan lingkungan. Kesadaran inilah yang ditekankan Program Studi (Prodi) Arsitektur Untag Surabaya melalui kuliah umum bertajuk “Jalan Menuju Arsitek Profesional” di Auditorium Gedung R. Ing Soekonjono, Rabu (10/9/2025).
Kegiatan ini diikuti 176 mahasiswa Arsitektur dari berbagai kampus, termasuk Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, yang antusias menyerap wawasan baru tentang perjalanan menjadi arsitek profesional.
Kuliah umum ini menjadi momentum penting karena digelar di bawah kepemimpinan baru. Dr. Ar. Andarita Rolalisasi, S.T., M.T., IPM., IAI, selaku Kaprodi Arsitektur, menegaskan bahwa lulusan arsitektur harus dipersiapkan sejak dini untuk berdaya saing di dunia profesi.
“Setelah lulus sarjana arsitektur, masih ada dua tahapan penting sebelum benar-benar menjadi arsitek profesional. Kami ingin mahasiswa Untag Surabaya tidak hanya lulus, tetapi juga berdaya saing di dunia profesi,” ungkapnya penuh semangat
Dekan Fakultas Teknik Untag Surabaya, Dr. Ir. R.A. Retno Hastijanti, M.T., juga memberikan semangat baru dengan menekankan pentingnya arsitek yang adaptif, kreatif, dan peduli lingkungan.
“Menjadi arsitek profesional adalah perjalanan panjang yang dimulai sejak kuliah. Karena itu, mari kita tumbuhkan semangat responsif, kreatif, dan peduli lingkungan. Fakultas Teknik Untag Surabaya siap mendampingi mahasiswa mewujudkan itu,” ujarnya
Untuk memperkuat pemahaman mahasiswa, kuliah umum ini menghadirkan narasumber berpengalaman, Ar. Teddy Aria Permana Noerkamiden, IAI seorang Owner & Founder at T+D Technik & Design. Ia mengupas tuntas regulasi profesi arsitek, standar pendidikan, hingga proses sertifikasi.
Teddy menegaskan bahwa profesi arsitek diatur secara resmi melalui Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2017. Seorang calon arsitek wajib menempuh program pendidikan hingga profesi, melaksanakan magang minimal 4000 jam, serta memperoleh Surat Tanda Registrasi Arsitek (STRA) sebagai lisensi resmi. Lebih dari sekadar kemampuan teknis, ia juga mengingatkan pentingnya aspek humanis dalam profesi ini.
“Arsitek masa kini harus lebih dari sekadar mampu menggambar. Ia harus mampu menjawab isu global seperti urbanisasi, digitalisasi, dan keberlanjutan. Seorang arsitek profesional sejati adalah yang mampu memberi dampak nyata bagi masyarakat dan lingkungan,” tegas Teddy
Kehadiran kuliah umum ini menjadi suntikan semangat baru bagi mahasiswa Arsitektur Untag Surabaya. Mereka tidak hanya mendapatkan wawasan teknis, tetapi juga motivasi untuk menapaki perjalanan panjang menuju profesi yang penuh dedikasi.
Melalui kegiatan ini, Prodi Arsitektur Untag Surabaya menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan pendidikan bermutu yang tidak hanya berfokus pada teori, tetapi juga pembekalan praktis menuju dunia profesi. Dengan bekal tersebut, mahasiswa dipersiapkan menjadi calon arsitek profesional yang siap bersaing di tingkat nasional maupun internasional. (Boby)