Banyak remaja dan mahasiswa kini tak hanya punya satu akun media sosial, tapi juga “second account” atau akun alter. Akun utama biasanya tampak rapi, penuh foto estetik, dan siap dilihat publik. Sementara akun alter lebih bebas: tempat curhat, bercanda, hingga posting tanpa filter. Fenomena ini mencerminkan identitas digital generasi muda yang makin kompleks.

Generasi muda merasa akun utama penuh ekspektasi sehingga dosen, keluarga, bahkan calon HRD bisa ikut mengintip. Akun alter jadi ruang aman untuk mengekspresikan diri tanpa takut dihakimi. Psikolog Sherry Turkle menyebut, “Di dunia digital, kita sering kali menampilkan versi diri yang berbeda tergantung siapa audiens kita.”

Dari sisi positif, akun alter bisa jadi ruang healing dan ekspresi jujur. Namun, ada risiko: identitas ganda yang bikin lelah hingga potensi drama sosial jika akun tersebut bocor. Riset Pew Research (2022) bahkan mencatat 40% anak muda merasa cemas jika identitas online mereka terbuka ke orang yang salah.

Fenomena akun alter menunjukkan kebutuhan ruang aman bagi anak muda di dunia digital. Punya dua wajah online bukan masalah, asalkan sadar konsekuensinya. Seperti kata sosiolog Erving Goffman, “Hidup adalah panggung, dan kita semua memainkan peran.” Pertanyaannya, apakah kita nyaman memainkan peran itu di akun utama maupun alter. (Ivan)