Direktur RS Menur Ungkap Fenomena Adiksi Ganda pada Anak

  • 10 Desember 2025
  • 1005

Perkembangan teknologi digital tidak hanya memengaruhi citra diri dan tekanan emosional perempuan, tetapi juga memicu gelombang baru gangguan kesehatan mental, termasuk kecanduan game online, pornografi, dan judi online pada anak-anak serta remaja. Hal ini disampaikan Drg. Vitria Dewi, M.Si, Direktur Utama RS Menur Surabaya kepada mahasiswa Untag Surabaya dalam sesi diskusi Women Care 2025 Sabtu (6/12/25).


Drg. Vitria menjelaskan bahwa pola penanganan adiksi di rumah sakit kini berubah drastis.


“Jika dulu yang kami tangani hanya NAPZA, dalam dua tahun terakhir kami banyak menerima penanganan untuk adiksi game online, kekerasan digital, hingga adiksi seksual usia dini,” ujarnya (6/12)


Mahasiswa Untag Surabaya yang hadir diberi arahan bahwa kondisi ini bukan sekadar fenomena teknologi, melainkan masalah kesehatan mental yang berdampak luas pada keluarga dan masa depan generasi.


“Banyak kasus adiksi dimulai dari kecemasan yang tidak tertangani. Cemas dulu, lama-lama depresi, lalu muncul perilaku pelarian,” ujar Direktur RS Menur tersebut


Ia menambahkan, pasien sering menghubunginya untuk mencari bantuan psikologis dan rujukan pengobatan ketika sudah merasa tidak mampu mengendalikan diri.


Anak-anak menjadi kelompok paling rentan. Dalam diskusi, Drg. Vitria mencontohkan kasus seorang anak perempuan berusia tujuh tahun yang datang ke RS Menur karena kecanduan konten seksual. Anak tersebut dititipkan kepada neneknya setelah orangtuanya bercerai. Tidak memahami teknologi, sang nenek membiarkan anak mengakses gawai secara bebas.


“Sekali sebuah konten dibuka, terutama seksual, seribu konten akan muncul,” katanya.


Begitu juga dengan algoritma digital yang bekerja agresif, membanjiri pengguna dengan rekomendasi serupa, tidak hanya untuk pornografi, tetapi juga ketika seseorang mencari kerudung, game, hingga aplikasi judi online.


Drg. Vitria juga mengungkap fenomena adiksi ganda pada anak, yang jarang dibahas publik. Dalam satu periode terapi, dari 43–44 anak yang ditangani, 38 di antaranya mengalami kecanduan game online sekaligus adiksi seksual. Kondisi ini memperumit rehabilitasi karena tenaga medis harus menangani dua gangguan perilaku sekaligus.


Ia menyoroti minimnya kemampuan orangtua dalam mengawasi konten digital. Ironisnya, menurut regulasi privasi digital, membuka telepon genggam anak tanpa izin termasuk pelanggaran.


“Saya baru tahu kalau membuka ponsel anak tidak boleh, ada aturannya,” ujarnya, ujarnya, menegaskan dilema pengawasan keluarga di era digital.


Upaya teknis untuk menekan paparan konten buruk telah dilakukan melalui penutupan (take down) platform tertentu, namun efektivitasnya minim. Konten baru terus bermunculan lebih cepat dari kemampuan penanganan. 


“Begitu satu ditutup, muncul seribu. Itu bukan lagu, itu realita,” ungkapnya.


Menurut Drg. Vitria, kunci sebenarnya bukan pelarangan aplikasi, tetapi kemampuan individu memilih konten dan mengatur perilaku digitalnya.


“Bukan melarang anak memilih aplikasi, tapi mengajarkan mereka bijak menentukan apa yang harus diikuti,” pesannya kepada peserta.


Selain anak-anak, perempuan juga menjadi kelompok yang paling terdampak tekanan media sosial, mulai dari tuntutan citra tubuh ideal, kecemasan akan penilaian sosial, hingga perbandingan gaya hidup dan pencapaian.


Tekanan tersebut menghasilkan stres emosional yang berpengaruh langsung pada tubuh, termasuk gangguan tidur, nafsu makan, dan menurunnya produktivitas. Banyak perempuan kemudian mencari pelarian dalam aktivitas digital, hingga menjadi konsumtif atau adiktif.


Menutup paparannya, Drg. Vitria menegaskan bahwa krisis ini tidak bisa ditangani sendiri oleh tenaga medis. Ia menyerukan komunitas perempuan untuk saling mendukung dan bukan saling menghakimi.


“Dalam perjalanan ini, jangan saling menjatuhkan. Jadilah perempuan-perempuan yang saling menolong,” tutupnya (Gisela)



https://untag-sby.ac.id
https://www.untag-sby.ac.id

\