Disertasi Suhari Soroti Kunci Sukses Transformasi Digital

  • 13 Juli 2026
  • 13

Investasi besar dalam teknologi digital belum tentu mampu meningkatkan kinerja organisasi. Temuan tersebut menjadi fokus utama penelitian disertasi Suhari, S.E., M.M., yang mengungkap bahwa keberhasilan transformasi digital lebih ditentukan oleh pengelolaan aspek manusia dan budaya kerja dibanding sekadar investasi teknologi.


Temuan tersebut dipaparkan Suhari dalam ujian doktor Program Studi Doktor Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Untag Surabaya yang digelar pada Selasa (7/7) di Meeting Room Lt. 9 Grha Wiyata Untag Surabaya.


Melalui disertasi berjudul “Transformasi Digital dalam Meningkatkan Kinerja Organisasi: Analisis Peran Mediasi Perilaku Kepemimpinan, Budaya Organisasi, dan Perilaku Tempat Kerja Digital dengan Kepuasan Digital sebagai Variabel Moderasi di RSUD Provinsi Nusa Tenggara Barat”, Suhari mengkaji fenomena digital productivity paradox, yaitu kondisi ketika investasi teknologi digital yang besar tidak diikuti peningkatan kinerja organisasi secara proporsional.


Penelitian dilakukan di RSUD Provinsi Nusa Tenggara Barat untuk menganalisis peran kepemimpinan digital, budaya organisasi digital, dan perilaku kerja digital dalam meningkatkan kinerja organisasi melalui transformasi digital.


Menurut Suhari, penelitian tersebut dilatarbelakangi masih adanya kesenjangan antara besarnya investasi teknologi digital dengan peningkatan kinerja organisasi yang belum sebanding. Kondisi ini menunjukkan bahwa keberhasilan transformasi digital tidak hanya ditentukan oleh teknologi, tetapi juga dipengaruhi faktor-faktor nonteknologi yang perlu dikaji lebih mendalam.


“Ke depan seluruh aspek kehidupan dan organisasi akan semakin bergerak menuju era transformasi digital. Karena itu kita harus mempersiapkan diri mulai dari meningkatkan literasi digital, penguasaan teknologi, hingga pengembangan infrastruktur digital. Jika tidak dipersiapkan dengan baik, kita akan semakin tertinggal,” ujarnya (7/7)


Hasil penelitian menunjukkan bahwa keberhasilan transformasi digital sangat bergantung pada kemampuan organisasi mengelola aspek manusia dan budaya kerja. Budaya organisasi digital terbukti menjadi faktor paling menentukan dalam mengubah perilaku individu menjadi kapabilitas organisasi yang mampu meningkatkan kinerja.


Penelitian ini juga menemukan bahwa perilaku adaptif dalam memanfaatkan teknologi memiliki pengaruh lebih besar dibanding perilaku inovatif. Temuan tersebut menunjukkan bahwa di organisasi sektor publik, kemampuan pegawai beradaptasi terhadap perubahan digital lebih penting daripada sekadar menghasilkan inovasi baru.


Selain itu, disertasi ini menghasilkan konsep baru bernama Constraint-Aware Leadership, yaitu model kepemimpinan digital yang menekankan kemampuan pemimpin dalam mengelola keterbatasan birokrasi, tuntutan akuntabilitas, regulasi, dan stabilitas pelayanan publik. Model ini menekankan bahwa pemimpin yang efektif tidak hanya menjadi agen perubahan, tetapi juga mampu menavigasi berbagai batasan institusional agar transformasi digital tetap berjalan optimal.


Di sisi lain, penelitian menemukan bahwa kepuasan digital tidak berperan sebagai variabel yang memperkuat hubungan antara kapabilitas digital dengan kinerja organisasi. Temuan ini mengindikasikan bahwa keberhasilan transformasi digital lebih dipengaruhi oleh perubahan sistem organisasi dan budaya kerja daripada tingkat kepuasan individu terhadap teknologi yang digunakan.


Suhari berharap hasil penelitiannya dapat memperkaya pengembangan ilmu transformasi digital, menjadi referensi bagi penelitian selanjutnya, serta menjadi masukan bagi organisasi sektor publik dalam merancang strategi transformasi digital yang tidak hanya berfokus pada investasi teknologi, tetapi juga penguatan budaya organisasi, kepemimpinan, dan sumber daya manusia. (Dini)


https://untag-sby.ac.id
https://www.untag-sby.ac.id