Doa di Tengah Cuaca Ekstrem Menghadapi Hujan Lebat

  • 23 Januari 2026
  • VaniaS
  • 1905

Fenomena hujan lebat dan cuaca ekstrem menjadi pengingat bagi umat Islam akan kebesaran Allah SWT sekaligus pentingnya kesiapsiagaan lahir dan batin. Hal ini sejalan dengan peringatan dini cuaca ekstrem yang dikeluarkan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) periode 21–23 Januari 2026.


BMKG memprediksi sejumlah wilayah berpotensi mengalami hujan dengan intensitas sedang hingga sangat lebat, disertai angin kencang dan potensi petir. Kondisi ini menuntut kewaspadaan masyarakat, tidak hanya dari sisi teknis kebencanaan, tetapi juga dalam dimensi spiritual.


Dalam perspektif Islam, perubahan cuaca dipahami sebagai bagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah SWT. Karena itu, menghadapi hujan deras dan angin kencang tidak cukup hanya dengan kesiapan fisik, tetapi juga dengan meneladani sikap Rasulullah SAW yang mengajarkan adab, doa, dan tawakal dalam menyikapi fenomena alam.


Menyambut Hujan sebagai Rahmat


Melansir dari Kompas.com, diriwayatkan dari Anas bin Malik, Rasulullah SAW pernah menyingkap sebagian pakaiannya agar terkena air hujan. Ketika ditanya mengenai hal tersebut, beliau menjelaskan bahwa hujan merupakan rahmat yang baru saja diciptakan oleh Allah SWT.


Imam al-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menerangkan bahwa tindakan Rasulullah SAW tersebut mengandung makna tabarruk, yakni mengharap keberkahan, karena hujan adalah bentuk rahmat Allah SWT yang diturunkan ke bumi.


Doa Saat Melihat Awan Gelap dan Hujan Lebat


Dalam riwayat Sayyidah Aisyah RA, Rasulullah SAW membaca doa ketika melihat awan mendung tebal: Allahumma inni audzu bika min syarriha. Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari keburukan awan ini.”


Ketika hujan turun, Rasulullah SAW membaca doa: Allahumma shayyiban nafian Artinya: “Ya Allah, turunkanlah hujan yang membawa manfaat.”


Kadang kala, hujan yang mengguyur permukaan bumi turun dengan curah yang sangat tinggi hingga berpotensi menyebabkan bencana banjir. Dalam hadis riwayat Bukhari, disebutkan bahwa Rasulullah SAW pernah melantunkan doa khusus ketika hujan turun dengan sangat deras. Allahumma haawalaina wa laa alaina. Allahumma alal aakami wal jibaali, wazh zhiroobi, wa buthunil awdiyati, wa manaabitisy syajari. Artinya: "Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan untuk merusak kami. Ya Allah, turunkanlah hujan ke dataran tinggi, gunung-gunung, bukit-bukit, perut lembah, dan tempat tumbuhnya pepohonan."


Doa-doa tersebut menunjukkan bahwa Islam mengajarkan keseimbangan antara optimisme terhadap rahmat Allah SWT dan kewaspadaan terhadap potensi bahaya.


Adab Menghadapi Angin Kencang


Rasulullah SAW juga mengajarkan adab ketika menghadapi angin kencang. Dalam sejumlah riwayat disebutkan bahwa angin merupakan bagian dari rahmat Allah SWT yang dapat membawa kebaikan maupun bencana.


Karena itu, umat Islam dianjurkan untuk tidak mencela angin, melainkan memohon kebaikannya serta berlindung kepada Allah SWT dari dampak buruk yang mungkin ditimbulkannya.


Isyarat Al-Quran tentang Hujan


Al-Qur’an menegaskan bahwa hujan merupakan bagian dari tanda-tanda kebesaran Allah SWT. Dalam Surah Al-Baqarah ayat 22 disebutkan: Wa anzala minas-samai maan fa akhraja bihi minats-tsamarati rizqan lakum Artinya: “Dan Dia menurunkan air dari langit, lalu dengan air itu Dia menghasilkan berbagai buah-buahan sebagai rezeki untukmu.”


Ayat ini menegaskan bahwa pada hakikatnya hujan adalah rahmat, meskipun dalam kondisi tertentu dapat menjadi ujian bagi manusia.


Peringatan cuaca ekstrem dari BMKG menjadi pengingat bagi umat Islam untuk menyelaraskan ikhtiar dan doa, karena kewaspadaan serta persiapan lahiriah harus disertai ketergantungan penuh kepada Allah SWT, sehingga meski cuaca ekstrem tidak dapat dihindari, dampaknya dapat diminimalkan dengan kesiapsiagaan, ketenangan, dan keteladanan terhadap ajaran Rasulullah SAW.



https://untag-sby.ac.id
https://www.untag-sby.ac.id

Vania

Reporter

\