Ekspor Naik 76 Persen, Batik Buktikan Daya Saingnya di Pasar Dunia

  • 18 Juli 2025
  • 3100

Motif-motif cantik yang membalut kain batik tak sekadar merekam sejarah dan nilai budaya Indonesia. Di balik keindahannya, batik menyimpan potensi ekonomi yang kian diakui dunia. Tak heran, banyak pihak menyebut batik sebagai karya seni yang tak hanya layak dipajang, tetapi juga mampu menggerakkan roda perekonomian rakyat.


Data terbaru menunjukkan nilai ekspor batik Indonesia meningkat signifikan pada awal tahun ini. Angkanya mencapai US$ 7,63 juta, tumbuh 76,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang tercatat sebesar US$ 4,33 juta. 


Kenaikan ini menjadi bukti nyata bahwa batik bukan hanya kebanggaan budaya, melainkan juga komoditas ekonomi kreatif yang memiliki daya saing di pasar global.


Dilansir dari detikFinance, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan batik memiliki kontribusi penting bagi perekonomian Indonesia. Bukan hanya pengrajin yang terbantu, tetapi juga desainer, penjual batik, hingga pelaku usaha kecil di daerah-daerah sentra produksi batik.


“Kita punya kekayaan alam dan kekayaan intelektual yang luar biasa. Jangan disembunyikan, justru harus kita tampilkan dengan percaya diri,” kata Agus.


Pada ajang World Expo Osaka 2025 di Jepang, Agus tampil mengenakan batik dengan motif khas Indonesia. Ia percaya, tampil percaya diri dengan batik di forum internasional merupakan salah satu cara memperkenalkan budaya bangsa sekaligus menunjukkan bahwa batik dapat digunakan dalam berbagai kesempatan, baik formal maupun santai.


Lebih dari sekedar simbol identitas budaya, batik juga menjadi bagian penting dari industri kreatif nasional. Berdasarkan data Direktori Sentra Badan Pusat Statistik, saat ini terdapat sekitar 5.946 industri batik di Indonesia dengan 200 sentra industri kecil menengah yang tersebar di 11 provinsi. Angka tersebut menunjukkan bagaimana batik memberikan kontribusi ekonomi yang nyata bagi banyak keluarga di Indonesia.


Agus menambahkan, pengembangan industri batik perlu didukung oleh pemanfaatan teknologi, terutama untuk mempercepat proses produksi. Namun, ia menekankan bahwa penggunaan teknologi bukan berarti mengabaikan nilai seni dan estetika batik itu sendiri. 


Upaya menjaga dan mengembangkan batik juga dilakukan melalui rencana penyelenggaraan Gelar Batik Nasional pada akhir bulan ini. Kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat citra batik sebagai simbol kebanggaan nasional sekaligus menegaskan bahwa batik relevan digunakan oleh semua generasi, termasuk anak muda.


Di tengah persaingan industri kreatif global, batik Indonesia terus melangkah maju. Tidak hanya mengharumkan nama bangsa sebagai warisan budaya dunia, tetapi juga membuktikan dirinya sebagai komoditas unggulan yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan memperkuat perekonomian nasional. (Gisela)



https://untag-sby.ac.id
https://www.untag-sby.ac.id

\