Lonjakan harga emas pada awal 2026 menyita perhatian publik setelah mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah. Harga emas batangan di Indonesia menembus Rp 2,79 juta per gram, memicu antrean pembelian dan perdebatan apakah kenaikan ini menjadi sinyal risiko ekonomi global.

Harga emas domestik tercatat melonjak tajam dalam waktu singkat. Pada Januari 2026, harga emas batangan naik hampir Rp 300 ribu per gram dibandingkan Desember 2025. Kenaikan agresif tersebut mendorong peningkatan minat beli masyarakat, terlihat dari ramainya transaksi di sejumlah gerai logam mulia.

Sejumlah faktor global dinilai menjadi pemicu utama. Ketidakpastian geopolitik masih membayangi perekonomian dunia, mulai dari konflik Rusia–Ukraina, eskalasi di Timur Tengah, dinamika politik Venezuela, hingga meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Eropa. Situasi tersebut mendorong investor beralih ke emas sebagai aset aman atau safe haven.

Selain faktor geopolitik, kebijakan moneter global turut berpengaruh. Bank sentral di beberapa negara besar, seperti China, India, dan kawasan Timur Tengah, tercatat meningkatkan cadangan emas sebagai bagian dari strategi diversifikasi dan pengurangan ketergantungan pada dolar AS. Ekspektasi penurunan suku bunga acuan Amerika Serikat pada 2026 juga melemahkan dolar, sehingga memperkuat daya tarik emas sebagai penyimpan nilai.

Meski demikian, perencana keuangan mengingatkan masyarakat agar tidak terjebak pembelian panik atau efek fear of missing out (FOMO). Emas dinilai lebih tepat sebagai instrumen perlindungan nilai jangka panjang, bukan sarana meraih keuntungan cepat. Strategi pembelian bertahap atau dollar cost averaging (DCA) dinilai lebih bijak, dengan tetap memastikan investasi tidak mengganggu kebutuhan pokok maupun dana darurat. (Ivan)