Fenomena Bediding: BMKG Jelaskan Suhu Dingin Saat Kemarau

  • 14 Juli 2025
  • 1254

Beberapa hari terakhir, warga di wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara merasakan suhu udara yang lebih dingin dari biasanya, terutama pada malam hingga pagi hari. Kondisi ini cukup membuat kaget sebagian masyarakat, terutama yang tinggal di dataran rendah, karena suhu terasa menusuk seperti berada di daerah pegunungan.


Namun fenomena udara dingin ini ternyata bukan hal baru. Di wilayah Jawa, masyarakat kerap menyebutnya dengan istilah bediding, yaitu rasa dingin yang biasa muncul saat musim kemarau.


Menurut penjelasan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), kondisi ini merupakan peristiwa yang wajar dan tidak perlu dikhawatirkan secara berlebihan.


Bukan Akibat Aphelion, Ini Penjelasan BMKG


BMKG menegaskan bahwa suhu rendah yang terjadi saat ini bukan dipicu oleh fenomena Aphelion, yaitu saat Bumi berada pada titik terjauhnya dari matahari dalam orbit tahunannya.


“Fenomena Aphelion memang berlangsung pada awal Juli, namun tidak berdampak besar pada suhu udara di permukaan bumi, terutama di kawasan tropis seperti Indonesia," demikian pernyataan BMKG seperti dikutip oleh Kompas.com.


Tiga Penyebab Utama Udara Dingin Menurut BMKG


BMKG membeberkan tiga faktor utama yang menyebabkan penurunan suhu di wilayah selatan khatulistiwa selama musim kemarau ini:


1. Musim Kemarau dan Monsoon Australia

Indonesia saat ini tengah mengalami musim kemarau. Angin musiman dari arah Australia (Monsoon Australia) membawa udara dingin dan kering menuju wilayah Indonesia bagian selatan.


2. Langit Cerah di Malam Hari

Minimnya awan menyebabkan proses pelepasan panas dari permukaan bumi ke atmosfer berlangsung lebih cepat di malam hari. Akibatnya, suhu udara turun drastis pada dini hari.


3. Hujan Sporadis dan Awan Dingin

Hujan yang masih terjadi secara sporadis membawa serta massa udara dingin dari awan ke daratan. Selain itu, tutupan awan yang tipis menyebabkan sinar matahari siang hari tidak maksimal menghangatkan permukaan bumi.


BMKG mengimbau masyarakat untuk tidak khawatir berlebihan terhadap suhu dingin yang melanda beberapa wilayah. Fenomena ini merupakan bagian alami dari siklus musim kemarau yang biasanya berlangsung antara bulan Juli hingga September.


"Cuaca dingin yang dirasakan masyarakat Indonesia, khususnya di wilayah selatan khatulistiwa seperti Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara, sebenarnya merupakan hal yang wajar dan terjadi setiap musim kemarau," demikian dijelaskan BMKG melalui akun Instagram resminya @infobmkg, Rabu (9/7/25), dilansir oleh Kompas.com.


Selain itu, masyarakat diingatkan untuk tidak mudah percaya pada isu atau informasi palsu soal cuaca ekstrem yang beredar di media sosial. Untuk mendapatkan data yang akurat dan terpercaya, BMKG menyarankan agar masyarakat mengakses kanal informasi resmi mereka. (Boby)



https://untag-sby.ac.id
https://www.untag-sby.ac.id

\