Fenomena Quiet Quitting: Ketika Gen Z Menolak Lembur Tanpa Apresiasi

  • 18 Juli 2025
  • 3098

Tren quiet quitting kini menjadi salah satu fenomena yang mencuri perhatian dalam dunia kerja modern. Istilah ini merujuk pada sikap pekerja yang hanya menjalankan tugas sesuai dengan deskripsi pekerjaan, tanpa mengambil tanggung jawab tambahan yang tidak dibayar atau tidak dihargai secara profesional.


Fenomena ini semakin marak di kalangan Generasi Z, yakni kelompok yang lahir antara tahun 1997 hingga 2012. Generasi ini dikenal sangat menghargai keseimbangan antara kehidupan pribadi dan profesional (work-life balance), serta menempatkan kesehatan mental sebagai prioritas utama dalam memilih dan menjalani karier.


Lebih dari sekadar tren viral di media sosial, quiet quitting mencerminkan pergeseran nilai yang signifikan dalam dunia kerja saat ini.


Dikutip dari IDN Times Jatim, terdapat beberapa faktor yang menjadi penyebab munculnya fenomena ini:


1. Kurangnya Pengakuan dan Apresiasi

Ketika kontribusi pekerja tidak diakui atau diapresiasi secara terbuka, muncul rasa diabaikan dan tidak dihargai. Hal ini berdampak langsung pada motivasi dan rasa percaya diri, serta berisiko merusak hubungan antar rekan kerja. Akibatnya, kolaborasi menurun dan pekerja enggan memberikan usaha lebih, karena merasa usaha ekstra tidak menghasilkan imbalan yang setimpal.


2. Ketidakseimbangan antara Pekerjaan dan Kehidupan Pribadi

Bagi Gen Z, work-life balance bukan sekadar preferensi gaya hidup, melainkan kebutuhan mendasar untuk menjaga kesehatan fisik dan mental. Ketika pekerjaan mulai menyita hampir seluruh waktu dan energi, kelelahan kronis dan kejenuhan pun muncul. Dalam situasi ini, quiet quitting menjadi cara untuk melindungi diri dan mengambil kembali kendali atas hidup pribadi.


3. Ketidakjelasan Peran dan Tanggung Jawab

Lingkungan kerja yang tidak memiliki pembagian tugas dan tanggung jawab yang jelas dapat menimbulkan kebingungan, kecemasan, hingga demotivasi. Ketika peran tidak terdefinisi secara tegas, karyawan merasa tersesat dan kehilangan arah. Hal ini juga berdampak pada tim yang kesulitan untuk bekerja sama secara efektif.


Fenomena ini mencerminkan perubahan pandangan terhadap loyalitas. Gen Z tak lagi memaknainya sebagai kepatuhan tanpa batas, melainkan hubungan timbal balik antara perusahaan dan individu. Tanpa penghargaan, kejelasan peran, dan peluang berkembang, keterlibatan pun akan memudar.


Jika diabaikan, quiet quitting berpotensi melemahkan produktivitas dan meningkatkan turnover. Namun, bila perusahaan mampu memahami kebutuhan generasi muda, Gen Z justru bisa menjadi kekuatan dalam membentuk organisasi yang adaptif, inovatif, dan relevan dengan dunia kerja masa kini. (Dini)




https://untag-sby.ac.id
https://www.untag-sby.ac.id

\