Dorongan untuk meningkatkan jumlah wirausaha muda kembali menjadi sorotan publik. Di tengah cepatnya perubahan lanskap ekonomi digital, muncul pertanyaan penting, sejauh mana generasi muda siap menjadi pelaku usaha baru yang mampu bersaing?
Momentum diskusi ini kian menguat setelah Wakil Menteri UMKM, Helvi Moraza, menyatakan bahwa kampus merupakan tempat strategis dalam membentuk wirausaha muda yang kompetitif.
Dilansir Antara News, Helvi menegaskan perguruan tinggi memiliki peran penting dalam memperkuat ekosistem kewirausahaan nasional melalui akses ilmu, jejaring, dan pendampingan bisnis bagi mahasiswa. Pernyataan ini menegaskan bahwa kampus bukan sekadar institusi pendidikan formal, tetapi juga penggerak ekosistem bisnis bagi mahasiswa.
Pregnandia Ladina, S.AB., M.AB., Ketua Laboratorium Kewirausahaan Prodi Administrasi Bisnis Untag Surabaya, memberikan sorotan berbeda. Di balik optimisme pemerintah, ia menyoroti persoalan mendasar di tingkat mahasiswa, ketidaksiapan mental untuk memulai usaha, meski peluang dan fasilitas telah tersedia.
Menurut Pregnandia, kampus sebagai ruang belajar kewirausahaan sebenarnya sudah berjalan baik. Berbagai program telah dibentuk untuk memberi ruang seluas-luasnya bagi mahasiswa.
“Menurut saya kampus-kampus di Indonesia sudah menjalankan peran itu dengan maksimal, khususnya di Untag Surabaya,” jelasnya (21/11).
Laboratorium kewirausahaan menyediakan inkubasi bisnis, pendampingan intensif, kegiatan bersama praktisi, hingga fasilitasi mahasiswa mengikuti kompetisi dan pendanaan hibah kewirausahaan. Semua itu disiapkan agar mahasiswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga terbiasa menghadapi realitas usaha.
Namun, ia menegaskan bahwa upaya kampus tidak selalu berbanding lurus dengan hasil akhir. Ruang, fasilitas, dan kesempatan sudah terbuka, tetapi keputusan untuk memulai usaha tetap berada di tangan mahasiswa. Inilah tantangan terbesar.
Menurut Pregnandia, keinginan berbisnis cukup tinggi di kalangan mahasiswa, tetapi seringkali tidak diikuti keberanian untuk mengeksekusi.
“Gen Z sekarang itu merasa takut untuk memulai. Ide bisnis mereka banyak, tapi ketika sudah ada wadahnya, mereka masih ragu untuk menjalankannya,” ungkapnya (21/11).
Fenomena yang sering terjadi, lanjutnya, adalah mahasiswa berhenti pada tahap konsep. Banyak yang hanya membuat proposal, sebagian lain bahkan belum sampai ke tahap proposal
“Ada yang buat sosial medianya, ngepost ‘coming soon’, tapi nggak pernah tahu jualannya itu kapan,” tukas Pregnandia
Fenomena ini disebut sebagai “jebakan persiapan”, di mana mahasiswa merasa sudah melakukan sesuatu, tetapi belum benar-benar memasuki fase bisnis. Tampilan visual, nama brand, dan unggahan estetis sering menjadi fokus utama, padahal usaha belum disusun nyata.
Pregnandia menilai pola ini menjadi hambatan besar bagi kampus dalam mencetak wirausaha muda yang benar-benar siap bersaing. Tanpa keberanian mengambil langkah pertama, semua fasilitas kampus menjadi kurang optimal. Ia menegaskan, keberhasilan pendidikan kewirausahaan hanya mungkin tercapai jika seluruh unsur terlibat secara konsisten.
“Proses ini bukan hanya tanggung jawab institusi atau dosen pendamping, tetapi juga mahasiswa sebagai pelaku utama. Semua ekosistem harus bekerja sama, dari mahasiswanya, dosen pendamping bisnisnya, sampai universitasnya,” tegas dosen muda tersebut
Kampus dapat memberikan ruang, dukungan, fasilitas, hingga akses pendanaan. Dosen pendamping dapat memberikan arahan dan mendorong mahasiswa. Tetapi ujungnya tetap kembali pada kemauan mahasiswa.
“Ketika sudah dipost untuk mengikuti perlombaan agar mendapatkan pendanaan, ya mari kita bekerja sama untuk mencetakkan bisnis tersebut,” jelasnya.
Menurut Pregnandia, wirausaha tidak lahir hanya dari teori atau fasilitas. Dibutuhkan sinergi, latihan mental, dan keberanian mengambil risiko. Pernyataan Wamen UMKM menjadi pemantik penting yang mengingatkan kembali peran kampus dalam mempersiapkan generasi wirausaha muda.
Namun, tantangan terbesar justru ada pada kesiapan generasi itu sendiri. Mahasiswa memiliki ide, kreativitas, dan akses digital yang luas. Tanpa keberanian memulai, semua itu hanya akan menjadi konsep yang tak bergerak. Kampus dapat menyediakan jalan, tetapi langkah pertama selalu ada di tangan mahasiswa. Tanpa langkah itu, mimpi menjadi wirausaha tidak akan pernah meninggalkan batas “coming soon”. (Gisela)