Gerhana Matahari Cincin 17 Februari 2026, Fenomena Langit Tak Terlihat Indonesia

  • 10 Februari 2026
  • 270

Fenomena Gerhana Matahari Cincin dipastikan kembali terjadi pada 17 Februari 2026. Peristiwa astronomi ini terjadi ketika Bulan melintas di antara Matahari dan Bumi dalam posisi apogee, sehingga tidak menutupi piringan Matahari secara sempurna dan menyisakan cahaya berbentuk cincin api.


Secara astronomis, gerhana matahari cincin terjadi karena diameter tampak Bulan lebih kecil dibanding Matahari. Akibatnya, cahaya Matahari tetap terlihat di bagian tepi Bulan dan membentuk lingkaran terang. Berdasarkan perhitungan para astronom, durasi maksimum fase cincin pada peristiwa ini diperkirakan berlangsung hingga sekitar dua menit.


Lintasan utama gerhana matahari cincin 2026 diketahui melintasi wilayah Kutub Selatan dan Antartika. Dengan demikian, fenomena ini tidak dapat disaksikan secara langsung dari sebagian besar wilayah dunia, termasuk Indonesia. Di Tanah Air, gerhana ini diperkirakan tidak terlihat atau hanya muncul sebagai gerhana parsial yang sangat tipis di wilayah tertentu.


Peneliti Ahli Utama Astronomi dan Astrofisika BRIN, Thomas Djamaluddin, menegaskan bahwa gerhana matahari bukanlah pertanda bahaya. Ia menyebut gerhana sebagai fenomena alam yang sepenuhnya dapat dijelaskan secara ilmiah dan justru penting untuk edukasi publik. Menurutnya, pemahaman astronomi membantu masyarakat memahami keteraturan pergerakan benda langit.


Meski tidak dapat diamati langsung, masyarakat Indonesia tetap dapat mengikuti peristiwa ini melalui siaran langsung observatorium internasional, pemantauan satelit, serta berbagai platform digital. Gerhana matahari cincin 2026 menjadi pengingat tentang presisi hukum fisika yang mengatur dinamika tata surya dan pentingnya literasi sains di era modern. (Ivan)


https://untag-sby.ac.id
https://www.untag-sby.ac.id