Setiap tahun, Hari Anak Nasional (HAN) hadir membawa pesan tentang pentingnya keberpihakan pada tumbuh kembang anak. Pada 23 Juli 2025 ini, tema “Anak Hebat, Indonesia Kuat Menuju Indonesia Emas 2045” digaungkan sebagai harapan besar untuk masa depan bangsa. Namun, di tengah perayaan dan simbol-simbol semangat, makna “anak hebat” kerap disederhanakan sebatas angka-angka di rapor atau ranking di kelas.
Dosen Fakultas Psikologi Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya, Dr. Isrida Yul Arifiana, M.Psi., Psikolog, menilai bahwa tema HAN kali ini perlu dimaknai lebih mendalam. Menurutnya, menjadi anak hebat tidak selalu berarti menjadi juara di sekolah. Ada aspek-aspek lain yang jauh lebih mendasar dalam perkembangan anak yang patut diperhatikan.
“Indikator anak hebat tidak selalu dinyatakan atau bersinergi dengan adanya prestasi atau nilai-nilai akademik yang memadai. Hebat juga mengacu pada bagaimana anak mampu mengenali dan mengelola emosi, menjalin interaksi sosial, memiliki kepekaan dengan lingkungan sosialnya, serta daya juang dalam aktivitas yang ia lakukan,” jelas Isrida (22/7)
Ia menambahkan, kebutuhan psikososial anak saat ini masih sering terabaikan. Banyak orang tua dan masyarakat terlalu fokus pada pencapaian nilai sekolah dan kompetisi, padahal pemenuhan kebutuhan emosional dan sosial justru menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan anak yang optimal. Rasa aman, penerimaan dari lingkungan, serta dukungan terhadap peran perkembangan anak merupakan hal mendasar yang tidak boleh diabaikan.
Jika kebutuhan psikososial anak tidak terpenuhi, lanjutnya, akan muncul dampak jangka panjang yang berpengaruh pada kualitas hidup anak di masa depan.
“Kelekatan antara orang tua dan anak itu penting sekali. Saat orang tua lekat dengan anaknya, maka berdampak pada relasi sosial, situasi akademik, dan cara anak dalam menyelesaikan masalah. Jika diabaikan, maka akan timbul masalah yang berdampak negatif pada anak, misalnya masalah kecemasan atau kendala dalam proses belajar,” ungkapnya (22/7)
Dalam konteks yang lebih luas, Isrida juga menyoroti tantangan nasional yang dihadapi Indonesia dalam memenuhi kebutuhan dasar anak. Ia menilai bahwa pemerataan akses terhadap pendidikan dan layanan kesehatan anak masih belum optimal. Selain itu, literasi pengasuhan yang rendah turut memperburuk kondisi ini.
“Pola asuh hangat yang responsif dan tegas dapat membantu anak tumbuh menjadi pribadi yang sehat secara emosional dan sosial. Pola asuh seperti ini memungkinkan anak untuk memiliki kelekatan yang aman, rasa percaya diri yang baik, dan kemampuan resiliensi menghadapi tantangan di masa depan,” tegasnya
Momentum Hari Anak Nasional 2025, menurut Isrida, seharusnya menjadi pengingat bahwa membangun generasi hebat tidak bisa hanya dibebankan pada sekolah atau orang tua saja. Semua pihak, pemerintah, sekolah, orang tua, hingga masyarakat luas, memiliki peran strategis dalam menciptakan lingkungan yang aman, nyaman, dan mendukung tumbuh kembang anak.
Ia pun menegaskan, jika generasi saat ini tumbuh tanpa pemenuhan kebutuhan psikososial yang memadai, maka Indonesia berisiko menghadapi penurunan kualitas sumber daya manusia di masa mendatang.
“Tanpa pemenuhan kebutuhan psikologis anak tentunya berdampak pada berbagai hal, salah satunya timbul permasalahan psikologis anak seperti gangguan kecemasan atau lainnya. Selain itu, juga turut berperan dalam menurunnya kualitas SDM dari sektor anak-anak,” jelasnya (22/7)
Pada akhirnya, tema “Anak Hebat, Indonesia Kuat Menuju Indonesia Emas 2045” bukan sekadar slogan. Tema ini menjadi pengingat bahwa pembangunan bangsa harus dimulai dari pemenuhan kebutuhan dasar anak, baik secara fisik, kognitif, sosial, maupun emosional. Anak hebat hari ini adalah kunci untuk mewujudkan Indonesia yang benar-benar kuat di masa depan. (Gisela)